NIGRODHA-JATAKA

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Veluvana, tentang Devadatta. Suatu hari para bhikkhu berkata kepadanya, “Āvuso Devadatta, Sang Guru sangat membantumu! Dari Beliau, Anda menjadi bhikkhu. Sedikit banyak, Anda telah mempelajari tentang Tipiṭaka, kata-kata dari Buddha. Anda telah membangkitkan kebahagiaan di dalam diri (mencapai jhana), kejayaan dan hasil kekayaan dari Dasabala adalah milikmu.”
Saat ini disebutkan, ia bangkit dan mengambil sebilah rumput, dengan berkata, “Saya tidak dapat melihat sesuatu yang bagus yang telah dilakukan petapa Gotama kepadaku, bahkan tidak dalam jumlah ini!” Mereka membicarakan ini di Balai Kebenaran (dhammasabhā).

Ketika Sang Guru datang, Beliau menanyakan apa yang sedang dibahas bersama. Mereka memberitahu-Nya. Beliau berkata, “Para bhikkhu, ini bukanlah yang pertama kalinya, tetapi di masa lampau juga Devadatta adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dan suka bermusuhan dengan teman.” Dan berikut ini Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

*****

Dahulu kala ada seorang raja agung yang bernama Magadha berkuasa di Rajagaha. Dan seorang saudagar dari kota itu yang membawa ke rumah putri dari saudagar lainnya di negeri lain untuk dijadikan istri bagi putranya. Tetapi wanita ini mandul. Seiring berjalannya waktu, ia menjadi tidak begitu dihormati disebabkan oleh alasan ini. Mereka semua membicarakan ini, yang kemungkinan didengar olehnya, “Selagi ada seorang istri yang mandul di dalam kehidupan rumah tangga anak kita, bagaimana bisa menjaga garis keturunan keluarga?”

Ketika pembicaraan ini sampai ke telinga wanita tersebut, ia berpikir, “Oh, baiklah, saya akan berpura-pura hamil dan memperdayai mereka.” Maka ia bertanya kepada seorang perawat tuanya yang baik, “Apa yang biasa dilakukan oleh wanita hamil?” Setelah diberitahukan apa yang harus dilakukan seorang ibu untuk melindungi anaknya, menutupi waktu menstruasinya, ia berpura-pura untuk menginginkan rasa yang masam dan yang tidak lazim. Di saat lengan dan kakinya harus mengalami pembengkakan, ia membuatnya bengkak dengan cara memukul tangan, kaki, dan punggung.

Hari demi hari, ia mengikat perutnya dengan kain dan pakaian agar tetap kelihatan membesar. Ia juga menghitamkan kedua puting susunya, dan ia hanya mengizinkan perawat tua tersebut untuk berada di kamar mandinya. Suaminya kemudian memberikan perhatian yang memang seharusnya diberikan pada keadaan itu. Setelah sembilan bulan berlalu dalam cara ini, ia mengatakan keinginannya untuk pulang ke rumahnya sendiri dan melahirkan di rumah orang tuanya sendiri. Maka setelah berpamitan dengan kedua mertuanya, ia naik ke dalam kereta dan dengan diikuti sejumlah banyak pengawal meninggalkan kota Rajagaha di belakangnya dan tetap berjalan maju ke depan.

Waktu itu ada sebuah rombongan karavan yang berjalan di depan kereta wanita ini. Ia biasanya akan pergi makan sarapan pagi di tempat yang baru saja disinggahi rombongan tersebut. Malam sebelumnya, seorang wanita miskin yang merupakan salah satu rombongan karavan itu melahirkan seorang putra di bawah pohon beringin. Wanita miskin ini berpikir bahwa tanpa karavan itu, ia tidak akan dapat bertahan hidup, dan ia kemungkinan akan dapat bertemu dengan anaknya lagi jika ia tetap hidup. Maka ia membungkus anaknya itu dengan selimut dan meninggalkannya berbaring sendirian di sana, di bawah pohon beringin. Dan dewa pohon tersebut yang menjaga bayi itu. Bayi itu bukanlah seorang anak biasa, melainkan ia adalah Bodhisatta yang telah datang ke dunia dalam bentuk itu.

Di saat waktunya sarapan pagi, rombongan pejalan tersebut tiba di tempat yang sama. Wanita itu beserta perawatnya duduk berteduh di bawah pohon beringin tersebut, mereka melihat seorang bayi yang memiliki warna kulit keemasan berbaring di sana. Akhirnya ia mengatakan kepada perawatnya bahwa tujuan mereka sudah tercapai, melepaskan ikatan di perutnya, dan mengatakan bahwa bayi itu adalah miliknya sendiri; baru saja dilahirkannya.

Para pengawal tersebut dengan segera membuat tenda untuk melindunginya, dan dengan perasaan yang amat gembira, mereka mengirim surat kembali ke Rajagaha. Mertuanya menulis surat balasan kepadanya dengan mengatakan ia tidak perlu pergi ke rumah orang tuanya karena bayinya telah lahir. Maka ia langsung kembali ke Rajagaha. Dan mereka pun mengakui anak tersebut, dan memberinya nama yang artinya sama dengan Pohon Beringin Yang Besar atau Nigrodha Kumāra. Di hari yang sama, menantu wanita dari seorang saudagar juga melahirkan seorang putra di saat perjalanannya untuk melahirkan di rumah orang tuanya sendiri; dan mereka memberinya nama dengan Sākha-Kumāra, si Penguasa Cabang Pohon. Dan di hari yang sama juga, istri dari seorang penjahit yang bekerja di tempat saudagar tersebut melahirkan seorang putra di tengah-tengah tumpukan kain, dan mereka memberinya nama Pottika atau Dollie.

Saudagar agung tersebut memanggil kedua anak itu karena telah lahir di hari yang sama dengan Pohon Beringin Yang Besar, dan membesarkan mereka bersama dengannya. Mereka semua tumbuh dewasa bersama dan akhirnya pergi ke Takkasila untuk menyelesaikan pendidikan. Kedua anak saudagar itu harus membayar dua ribu keping uang kepada guru mereka; sedangkan Pohon Beringin Yang Besar mengajari Pottika dengan pengetahuan yang didapatkannya dari sana.

Ketika telah menyelesaikan pendidikan, mereka berpamitan dengan guru mereka dan pergi meninggalkan dirinya. Dengan tujuan untuk mempelajari adat dari para penduduk kota, dan dengan mengembara akhiranya mereka sampai ke kota Benares dan duduk beristirahat di sebuah vihāra (vihara). Waktu itu adalah hari ketujuh setelah raja Benares meninggal.

Pengumuman diberitakan ke seluruh kota dengan membunyikan drum bahwa kereta pemakamannya akan disiapkan besok. Ketiga sahabat tersebut sedang berbaring tertidur di bawah sebuah pohon. Di saat hari menjelang fajar, Pottika terbangun dan duduk bersandar di kaki Pohon Beringin. Ada dua ekor ayam jantan yang bertengger di pohon itu; ayam yang ada di bagian atas pohon membuang kotoran yang jatuh tepat di atas kepala ayam yang berada di bawah pohon.
“Apa ini yang jatuh di atas kepalaku?” tanya ayam ini.
“Jangan marah, Tuan,” jawab yang satunya lagi,
“Saya tidak sengaja melakukannya.”
“Oh, jadi Anda pikir diriku ini adalah tempat penampungan kotoranmu! Anda tidak tahu betapa pentingnya diriku ini, padahal itu sudah jelas!”
“Oho, masih tetap marah meskipun sudah saya katakan tidak sengaja melakukannya! Dan apa yang penting dari dirimu?”
“Siapa saja yang menyembelih dan memakan dagingku akan mendapatkan uang seribu keping di pagi ini juga! Bukankah itu merupakan suatu hal yang patut dibanggakan?”
“Pooh, pooh, bangga dengan hal kecil seperti itu! Mengapa demikian, karena jika siapa saja menyembelih dan memakan lemak dagingku, ia akan menjadi seorang Raja di pagi hari ini juga; kemudian yang memakan daging bagian tengah akan menjadi Panglima Tertinggi; yang memakan daging dengan tulangku akan menjadi Bendahara!”

Semua ini terdengar oleh Pottika. “Uang seribu keping—” pikirnya, “Apa itu? Lebih baik menjadi raja!” Maka dengan pelan ia memanjat pohon tersebut dan menangkap ayam yang bertengger di bagian atas dan membunuhnya kemudian memasaknya di dalam bara api; lemak dagingnya diberikan kepada si Beringin, daging bagian tengah diberikan kepada si Cabang Pohon dan dirinya sendiri makan daging dengan tulangnya. Setelah mereka selesai makan, ia berkata, “Beringin, Tuan, hari ini Anda akan menjadi raja; Cabang Pohon, Tuan, Anda akan menjadi panglima tertinggi; dan diriku sendiri akan menjadi bendahara!” Mereka menanyakan bagaimana ia mengetahuinya dan ia pun memberitahukan mereka.

Maka di saat waktunya tiba untuk makan siang, mereka masuk ke kota Benares. Di rumah seorang brahmana mereka mendapatkan makanan berupa nasi, dengan mentega cair dan gula. Sesudahnya itu, mereka masuk ke taman kerajaan di saat mereka ingin keluar dari kota tersebut.  Beringin berbaring di atas potongan batu yang tebal dan yang dua lagi berbaring di sampingnya. Pada waktu itu, mereka baru saja akan pergi dengan membawa kereta upacara pemakaman tersebut, dengan lima lambang kekuasaan raja di dalamnya. Kereta itu berjalan masuk, berhenti dan diam bersiap-siap untuk mereka masuk.
“Makhluk yang memiliki kebajikan besar pasti ada di sekitar sini,” pikir pendeta kerajaan tersebut sendiri. Ia masuk ke dalam taman dan melihat pemuda itu. Kemudian ia mengangkat naik kain yang menutupi kaki pemuda itu dan memeriksa tanda-tanda yang ada.

Ia berkata, “Mengapa membiarkan kota Benares tidak memiliki pemimpin di saat ada pemuda ini yang ditakdirkan menjadi raja di seluruh Jambudīpa (India)?” dan ia memerintahkan untuk membunyikan gong dan simbal.

Beringin terbangun dan menurunkan kembali kain yang tadinya menutupi wajahnya dan melihat kumpulan orang ramai mengelilingi dirinya! Ia berbalik dan diam sejenak, kemudian bangun dan duduk bersila. Petapa itu berlutut dengan satu kaki sambil berkata, 
“Makhluk mulia, kerajaan ini adalah milik Anda!” “Memang begitu,” kata pemuda tersebut. Petapa itu mendudukkannya di tumpukan batu permata yang berharga dan menobatkannya sebagai raja.

Setelah menjadi raja, ia memberikan jabatan panglima tertinggi kepada temannya, Cabang Pohon, yang memasuki kota dengan gagahnya; dan Pottika ikut pergi dengan mereka. Mulai dari hari itu, Sang Mahasatwa memerintah di Benares dengan adil.

Suatu hari, ingatan akan orang tuanya muncul dalam pikiran dan ia menyapa Cabang Pohon dengan berkata, “Tuan, tidak mungkin kita hidup tanpa ayah dan ibu; bawalah rombongan pengawal bersamamu dan jemput mereka datang.” Tetapi si Cabang Pohon menolaknya, “Itu bukan urusanku.” Kemudian raja meminta Pottika untuk melakukannya. Pottika menyetujuinya. Ia pergi ke tempat orang tua Beringin dan memberitahukan mereka bahwa putranya telah menjadi seorang raja dan meminta mereka untuk ikut bersamanya. Tetapi mereka menolaknya dengan alasan mereka sudah memiliki kekuasaan dan kekayaan di sana dan sudah merasa cukup dengan itu jadi mereka tidak akan pergi. Ia juga meminta orang tua si Cabang Pohon untuk ikut dengannya dan mereka juga lebih suka tinggal di sana saja; dan ketika ia meminta orang tuanya sendiri untuk ikut dengannya, mereka berkata, “Kami hidup dari hasil menjahit; cukup, cukup,” dan menolaknya sama seperti yang lain.

Karena tidak berhasil membujuk mereka untuk ikut dengannya, Pottika kembali ke Benares. Dengan berpikir untuk istirahat di rumah panglima dari lelahnya melakukan perjalanan sebelum menjumpai Beringin, ia pun pergi ke rumah panglima.
“Beritahu panglima,” katanya kepada penjaga pintu,” bahwa temannya, Pottika, ada di sini.” Penjaga itu pun melakukan apa yang diperintahkannya. Akan tetapi Cabang Pohon itu telah menaruh dendam kepadanya karena ia memberikan kerajaan itu bukan kepada dirinya melainkan kepada temannya yang satu lagi, yaitu si Beringin. 

Maka ketika ia mendengar pesan dari penjaga pintunya, ia menjadi marah. “Teman katanya! Siapa yang menjadi temannya? Dasar orang gila! Tangkap ia!” Maka mereka pun memukul, menendang, dan menghantamnya dengan kaki, lutut dan sikut, kemudian menjerat lehernya dan membuangnya ke depan.

Pottika berpikir, “Si Cabang Pohon mendapatkan posisi panglima ini karena diriku. Sekarang ia menjadi tidak tahu berterima kasih, mendendam, dan menyuruh pengawalnya memukulku serta menyeretku ke depan. Beringin adalah orang yang bijak, tahu berterima kasih dan baik. Saya akan pergi mencarinya.” Maka ia pergi ke tempat raja dan memberikan pesan untuk disampaikan kepada raja bahwa temannya, Pottika, sedang menunggu di luar pintu.

Raja menyuruhnya masuk dan ketika melihatnya mendekat, ia bangkit dari tempat duduknya dan menyambutnya dengan cinta kasih. Ia meminta pengawalnya untuk membersihkan diri Pottika dan melayaninya, memberinya perhiasan beraneka ragam bentuk, memberinya berbagai jenis daging untuk dimakan. Setelah semuanya itu selesai dikerjakan, ia duduk bersama dengannya dan menanyakan tentang kabar orang tuanya yang didengarnya tidak bersedia datang bersamanya.

Waktu itu Cabang Pohon berpikir sendiri, “Pottika akan menjelek-jelekkan diriku di hadapan raja, tetapi jika saya pergi ke sana, ia tidak akan bisa berbicara,” maka ia juga pergi ke sana. Dan Pottika mengatakan kepada raja meskipun ada Cabang Pohon di sana, “Paduka, sewaktu saya merasa lelah dalam perjalananku, saya pergi ke rumah Cabang Pohon dengan harapan dapat beristirahat sejenak di sana dan kemudian nantinya baru menjumpai Anda. Tetapi ia berkata, ‘Saya tidak mengenalnya!’ dan memperlakukan diriku dengan kejam, menyeret leherku keluar ke depan! Bisakah Anda mempercayainya ini!” dan dengan perkataan ini, ia mengucapkan tiga bait kalimat berikut:
Siapa laki-laki itu? Saya tidak mengenalnya! Dan siapa ayah laki-laki itu?’ demikian kata Sākha :Nigrodha, bagaimana menurutmu?
Kemudian pengawalnya memukulku atas perintah Sākha itu, Dan menyeret leherku dan membuangku keluar  dari tempatnya.
Perbuatan tidak setia kawan yang demikian hanya dapat dilakukan oleh orang yang berhati iblis! Orang memalukan yang tidak tahu berterima kasih, O raja—dan ia adalah temanmu, juga!
Setelah mendengar ini, Beringin mengucapkan bait keempat berikut ini:   
Saya tidak tahu, ataupun mendengar dari siapapun, Tentang perlakuan yang demikian buruk yang  dilakukan oleh Sākha.
Anda pernah tinggal bersamaku dan juga Sākha; kami berdua adalah temanmu; Anda memberikan kami masing-masing satu bagian dari kerajaan ini: Karena Anda kami mendapatkan kemuliaan, dan itu  tidak diragukan.
Seperti biji yang dibakar di dalam api, ia akan terbakar, dan tidak dapat tumbuh; Melakukan hal yang baik kepada orang yang jahat, itu akan membuatnya binasa.
Mereka bukan yang tahu berterima kasih, baik, dan berbudi luhur;  Di tanah yang gembur, benih pasti akan tumbuh; perbuatan bajik tidak akan hilang dari dalam diri orang yang baik.
Selagi Beringin mengucapkan bait kalimat ini, Cabang Pohon berdiri tegak tidak bergerak. Kemudian raja bertanya kepadanya, “Bagaimana, Cabang Pohon, Anda mengenali laki-laki ini, Pottika?” Ia menjadi bisu. Dan raja mengeluarkan perintah dalam bait kedelapan berikut ini:
Tangkap pengkhianat yang tak berharga ini, yang memiliki pemikiran yang begitu jahat; Tusuk dirinya! Karena saya menginginkan ia mati—karena hidupnya tidak berarti apapun bagiku!
Tetapi Pottika berpikir dalam dirinya sendiri ketika mendengar perintah ini—“Jangan biarkan orang dungu ini mati karena diriku!” dan ia mengucapkan bait kesembilan berikut ini:
Raja yang agung, berbelas kasihlah! Sekali kehidupan pergi, susah membawanya kembali: Paduka, maafkanlah dirinya dan biarkan ia hidup! Saya menginginkan dirinya tidak dilukai.
Ketika raja mendengar akan hal ini, ia pun memaafkan si Cabang Pohon. Dan ia bermaksud untuk memberikan jabatan panglima tertinggi kepada Pottika, tetapi ia tidak mau menerimanya. Kemudian raja tetap memberikannya jabatan sebagai bendahara, dan dengan jabatan itu ia akan memeriksa semua barang-barang para saudagar kota tersebut

Sebelumnya tidak ada kantor yang bertugas demikian, dan sekarang akhirnya ada.
Pada akhirnya, Pottika, si bendahara kerajaan yang dikaruniai dengan putra dan putri, mengucapkan bait terakhir berikut ini untuk menasehati mereka:
Orang seharusnya tinggal bersama dengan Nigrodha; Melayani Sākha bukanlah merupakan hal yang baik. Lebih baik mati bersama dengan Nigrodha Daripada hidup bersama dengan Sākha.
-----

Uraiannya selesai di sini dan Sang Guru berkata, “Jadi, para bhikkhu, Anda melihat bahwasannya di masa lampau Devadatta telah menunjukkan ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih,” dan kemudian Beliau mempertautkan kisah kelahiran ini: “Pada masa itu, Devadatta adalah Sākha (Cabang Pohon), Ananda adalah Pottika dan saya sendiri adalah Nigrodha (Beringin).”
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Copyright © 2011. Cerita Jataka - Kisah Sang Buddha Gautama pada masa kelahiran lampau - All Rights Reserved
Template Proudly powered by Blogger