CAKKA-VAKA-JATAKA


Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika beradadi Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah. Dikatakan bahwa laki-laki ini tidak merasa puas dengan hasilnya sebagai peminta-minta, ia selalu berkeliling sambil menanyakan, “Dimanakah ada makanan buat para bhikkhu? Dimanakah ada undangan makan?” dan ketika mendengar orang menyebutkan daging, ia akan menjadi sangat gembira.

Kemudian seorang bhikkhu lainnya yang memiliki niat baik karena merasa iba kepadanya memberitahukan Sang Guru tentang masalah ini. Beliau menyuruh orang memanggil bhikkhu tersebut dan bertanya kepadanya, “Apakah benar seperti yang saya dengar, Bhikkhu, bahwa Anda adalah orang yang serakah?”  “Ya, Bhante, itu benar,” jawabnya. 

Sang Guru berkata, “Bhikkhu, mengapa Anda masih memiliki rasa serakah setelah memeluk suatu keyakinan yang sama dengan kami, yang menuntun ke arah penyelamatan? Keadaan diri yang serakah adalah dosa: Di masa lampau, dikarenakan keserakahan, Anda tidak merasa puas dengan bangkai gajah dan bagian dalam hewan lainnya di Benares, Anda pergi ke dalam hutan yang lebat.” Sehabis berkata demikian, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau

*****

Dahulu kala ketika Brahmadatta berkuasa sebagai raja Benares, ada seekor burung gagak yang tidak merasa puas dengan bangkai-bangkai gajah di Benares dan bagian dalam hewan lainnya. Ia berpikir, “Sekarang saya ingin tahu seperti apakah rasanya di dalam hutan itu?” Maka ia pun pergi ke dalam hutan, tetapi ia juga tidak dapat merasa puas dengan buah-buahan liar yang ia temukan di sana.

Kemudian ia pergi ke sungai Gangga. Sewaktu melewati tepi sungai Gangga, ia melihat sepasang angsa merah dan berpikir, “Unggas yang ada di sana sangat cantik sekali; menurutku mereka pasti mendapatkan banyak daging untuk dimakan di tepi sungai Gangga ini. Saya akan bertanya kepada mereka, dan saya juga akan memiliki warna tubuh yang bagus seperti mereka jika saya memakan apa yang mereka makan.” Jadi dengan bertengger di tempat yang tidak jauh dari pasangan angsa tersebut, ia bertanya kepada mereka dengan mengucapkan dua bait kalimat berikut:
Anda berdua memiliki warna yang bagus, bentuk yang indah, badan yang berdaging, dengan warna merah, O angsa! Saya yakin kalian adalah yang paling cantik, wajah dan indera kalian begitu cerah dan sejati!
Dengan berada di tepi sungai Gangga, kalian memakan ikan berduri dan ikan air tawar, Lipas, ikan berduri lembut dan ikan lainnya yang hidup di sepanjang aliran sungai Gangga ini!

Kemudian angsa merah tersebut membantah perkataannya dengan mengucapkan bait ketiga berikut:
Tidak ada daging di sungai ini yang saya makan, ataupun yang ada di dalam hutan: Semua jenis tumbuhan saya makan itu; Teman, hanya itulah makananku.”

Kemudian gagak mengucapkan dua bait kalimat lagi:
Saya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh angsa itu tentang makanannya. Yang saya makan di desa adalah makanan yang diberi garam dan minyak, Setumpuk nasi, bersih dan enak, yang disediakan  oleh manusia Dengan dagingnya; akan tetapi, angsa, warna tubuhku tidak bisa seperti punya kalian.
Karena perkataannya tersebut, angsa merah yang satunya lagi mengucapkan sisa bait kalimat berikut untuk menunjukkan alasan bagi warnanya yang tidak bagus, dan memaparkan kebenarannya:
Dengan memiliki dosa di dalam hatimu, yang menghancurkan manusia, Dalam rasa takut dan cemas Anda makan makananmu; demikianlah Anda mendapatkan warna itu.
Gagak, Anda telah berbuat salah di dunia dengan dosa yang diperbuat di kehidupan masa lampau, Anda tidak pernah merasa senang dengan makananmu; inilah yang memberi Anda warna itu.
Sedangkan saya, teman, makan dan tidak melukai orang, tidak cemas, dan perasaan tenang, tidak memiliki masalah, tidak takut apapun dari musuh-musuh.
Jadi hal demikian yang harus Anda jalankan, dan kebajikan akan bertambah, Hidup di dunia ini dan jangan melukai sehingga nantinya orang lain akan menyukai dan memuji.
Barang siapa yang bersikap dengan baik kepada semua makhluk hidup, tidak melukai dan dilukai, Barang siapa yang tidak mengganggu, tidak yang mengganggu dirinya, tidak ditemukan kebencian dalam dirinya.”
Oleh karena itu, jika Anda ingin disukai dunia ini, jauhkan diri dalam nafsu keinginan yang buruk,”

Demikian yang katakan angsa merah tersebut dengan mengatakan kebenarannya. Gagak menjawabnya, “Jangan berbohong kepadaku dengan mengatakan cara kalian makan!” dan dengan mengeluarkan suara “Caw!Caw!” ia terbang ke atas menuju ke tempat tumpukan kotoran di Benares.

-----

Setelah Sang Guru selesai menceritakan kisah ini, Beliau memaparkan kebenarannya: (Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang tadinya serakah itu mencapai tingkat kesucian anagami): “Pada masa itu, bhikkhu ini adalah burung gagak, Ibu Rahula  adalah pasangan dari angsa merah ini dan saya sendiri adalah angsa merah.”

Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Copyright © 2011. Cerita Jataka - Kisah Sang Buddha Gautama pada masa kelahiran lampau - All Rights Reserved
Template Proudly powered by Blogger