SERIVANIJA-JATAKA


Kisah ini diceritakan oleh Sang Buddha ketika Beliau berada di Sawatthi, juga mengenai seorang bhikkhu yang menyerah dalam daya upaya pelatihan dirinya.
Maka, pada saat dibawa oleh para bhikkhu seperti halnya dalam kisah sebelumnya, Sang Guru berkata, “Engkau, bhikkhu yang telah bertekad untuk melaksanakan ajaran yang begitu mulia, yang memungkinkan pencapaian kesucian, hendak menyerah berdaya upaya dalam pelatihan, hal ini akan membuahkan penderitaan panjang seperti seorang pedagang di Seri yang kehilangan sebuah mangkuk emas bernilai seratus ribu keping uang.”

Para bhikkhu memohon Sang Buddha menjelaskan maksud perkataan Beliau kepada mereka. Beliau kemudian menjelaskan hal yang selama ini tidak mereka ketahui dikarenakan kelahiran kembali.
Suatu ketika pada masa lima kalpa yang lampau di Kerajaan Seri, Bodhisatta berdagang belanga dan tembikar, ia dikenal dengan sebutan ‘Serivan’. Bersama seorang pedagang keliling lainnya yang tamak, dengan barang dagangan yang sama, juga dikenal dengan sebutan ‘Serivan’, melintasi Sungai Telavāha  dan  memasuki  Kota  Andhapura.  Mereka  membagi daerah  dagang  dengan  kesepakatan  bersama  dan  masing-masing mulai berkeliling menjajakan dagangannya.

Di kota itu terdapat sebuah keluarga yang sangat miskin. Awalnya mereka adalah keluarga saudagar yang kaya, namun saat kisah ini terjadi, mereka telah kehilangan semua anak laki- laki dan saudara laki-laki beserta semua harta kekayaan mereka. Yang tersisa dalam keluarga itu hanyalah seorang anak gadis bersama neneknya, mereka bertahan hidup dengan menerima pekerjaan upahan. Tanpa menyadari bahwa mereka masih mempunyai sebuah mangkuk emas yang dulunya dipakai oleh saudagar kaya, kepala keluarga itu untuk menyantap makanan.
Akan tetapi karena sudah lama tidak dipergunakan, mangkuk emas itu tersaput kotor dengan debu dan ditempatkan di antara tumpukan belanga dan tembikar. Saat itu, pedagang keliling yang tamak sedang berada di depan rumah mereka menjajakan barang dagangannya. Ia berteriak, “Kendi untuk dijual! Kendi untuk dijual!”

Ketika gadis muda itu melihat ada seorang pedagang keliling di depan pintu rumah mereka, ia berkata kepada neneknya, “Ayolah, Nek, belikan saya  sebuah perhiasan.”
“Kita sangat miskin, Sayang; apa yang dapat kita tukarkan untuk mendapatkan perhiasan?”
“Masih ada sebuah mangkuk yang tidak pernah kita gunakan, mari kita tukarkan dengan perhiasan untukku.”

Wanita tua itu mempersilakan pedagang keliling tersebut masuk dan duduk, kemudian memberikan mangkuk itu kepadanya  dan  berkata,  “Ambillah  ini,  Tuan.  Berbaik  hatilah dengan menukarkan sesuatu untuk saudarimu ini.”

 Pedagang tamak itu mengambil mangkuk tersebut dan membalikkannya. Ia memperkirakan mangkuk itu terbuat dari emas, dengan menggunakan sebatang jarum ia menggores bagian belakang mangkuk dan yakin itu adalah sebuah mangkuk emas. Sambil memikirkan cara mendapatkan mangkuk tersebut tanpa memberikan apapun kepada wanita tua itu, ia berteriak, “Memangnya berapa harga mangkuk ini? Bahkan tidak bernilai seperdelapan sen!”

Seraya bangkit dari tempat duduknya, ia melemparkan mangkuk itu ke lantai dan pergi dari rumah itu. Sesuai kesepakatan mereka, setelah seorang pedagang selesai menjajakan dagangannya di suatu tempat, pedagang yang lain boleh mencoba peruntungannya di tempat yang telah ditinggalkan temannya; maka Bodhisatta datang ke jalan yang sama, berhenti di depan rumah tersebut dan berteriak, “Kendi untuk dijual!” Sekali lagi gadis muda itu mengulangi permintaannya. Wanita tua itu menjawab, “Sayangku, pedagang keliling sebelumnya telah melemparkan mangkuk ini ke lantai dan meninggalkan rumah kita. Barang apa lagi yang bisa kita tukarkan untuk mendapatkan perhiasan untukmu?”

“Pedagang tadi seorang yang kasar dalam berkata-kata, Nek. Sementara yang ini terlihat baik dan berbicara dengan ramah. Sepertinya ia akan menerima tawaran kita.” “Kalau begitu, panggillah ia kemari.” Maka pedagang itu pun masuk ke dalam rumah, setelah dipersilakan duduk, mereka menyerahkan mangkuk itu kepadanya. Melihat bahwa mangkuk itu terbuat dari emas, ia berkata, “Ibu, mangkuk ini bernilai seratus ribu keping uang. Saya tidak mempunyai uang sebanyak itu.”

 “Tuan, pedagang yang kemari sebelum kedatanganmu mengatakan bahwa nilai mangkuk ini tidak melebihi seperdelapan sen. Ia melemparkan mangkuk ke lantai dan pergi dari rumah ini. Kemuliaan hatimu telah mengubah mangkuk ini menjadi emas. Ambillah mangkuk ini, berikan sesuatu barang atau yang lainnya kepada kami, dan lanjutkan perjalananmu.”

Saat itu Bodhisatta memiliki lima ratus keping uang dan barang dagangan dengan nilai yang lebih besar. Ia memberikan semuanya kepada mereka dan berkata, “Saya akan menyisakan timbangan, tas dan delapan keping uang untuk saya simpan.” Atas persetujuan mereka, ia menyimpannya, kemudian dengan cepat berlalu ke pinggir sungai, memberikan delapan keping uang tersebut kepada tukang perahu dan naik ke perahu. Tidak lama kemudian, pedagang yang tamak itu kembali ke rumah tersebut, meminta mereka mengeluarkan mangkuk itu untuk ditukar dengan sesuatu barang atau yang lain. Wanita tua itu menemuinya dan berkata, “Engkau mengatakan mangkuk emas kami yang bernilai seratus  ribu keping uang itu tidak bernilai bahkan seperdelapan sen. Namun datang seorang pedagang jujur (saya duga tuanmu) yang memberikan kami seribu keping uang, kemudian membawa mangkuk itu bersamanya.”

Mendengar hal tersebut ia berteriak, “Ia telah merampok sebuah mangkuk emas yang bernilai seratus ribu keping uang dariku; ia telah menyebabkan aku menderita kerugian besar.” Kesedihan yang teramat sangat menderanya, ia kehilangan kendali dan terlihat seperti orang yang terganggu pikirannya. Uang dan barang dagangan dicampakkannya di depan pintu rumah itu; ia melepaskan pakaiannya; dengan membawa lengan timbangan sebagai alat pemukul, ia menyusul Bodhisatta sampai ke pinggir sungai.

Melihat perahu telah berlayar, ia menjerit agar tukang perahu kembali ke pinggir sungai, namun Bodhisatta meminta tukang perahu untuk melanjutkan pelayaran tersebut. Ia berdiri di pinggir sungai, hanya bisa memandang Bodhisatta yang semakin jauh darinya, penderitaan yang amat sangat melandanya. Hatinya diliputi oleh kemarahan; darah mencurat dari bibirnya; jantungnya retak seperti lumpur di dasar permukaan tangki yang kering oleh sinar matahari.

Karena memikul kebencian terhadap Bodhisatta, ia meregang nyawa di tempat itu pada saat itu juga. (Inilah saat pertama Devadatta menaruh dendam terhadap Bodhisatta). Bodhisatta yang menjalankan hidup dengan kemurahan hati dan perbuatan baik lainnya, terlahir kembali di alam sesuai dengan apa yang telah ia perbuat.

Setelah menyampaikan kisah ini,Buddha,Yang Maha tahu mengucapkan syair berikut ini:
Jika dalam keyakinan ini, engkau lengah dan gagal untuk mencapai tujuan sebagaimana yang diajarkan,maka, seperti ‘Serivan’ si penjaja keliling, sepanjang masa meratap sesal imbalan yang hilang akibat kedunguannya.
 Setelah menguraikan Dhamma dengan cara yang dapat membimbing mereka pada pencapaian tingkat kesucian Arahat, Sang Guru memaparkan Empat Kebenaran Mulia secara terperinci. Di akhir khotbah, bhikkhu yang (tadinya) putus asa itu mencapai tingkat kesucian tertinggi, Arahat.

Setelah menceritakan kedua kisah itu, Sang Buddha menjelaskan pertautan keduanya dan memperkenalkan kisah kelahiran itu dengan menuturkan kesimpulan, “Saat itu, Devadatta adalah penjaja keliling yang tamak, dan Saya sendiri adalah penjaja keliling yang bijaksana dan baik itu.”

 

VANNNUPATHA-JATAKA



Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru mengenai seorang bhikkhu yang menyerah dalam daya upaya pelatihan dirinya.
Suatu waktu, saat Buddha menetap di Sawatthi, datanglah seorang keturunan keluarga Sawatthi ke Jetawana. Sewaktu mendengarkan khotbah Sang Buddha, ia menyadari bahwa nafsu keinginan merupakan sumber penderitaan, jadi ia memutuskan untuk menjadi seorang samanera. Selama lima tahun lamanya ia mempersiapkan diri untuk menjadi seorang bhikkhu  , ia mempelajari dua rangkuman dan melatih diri dengan menggunakan metode Vipassana, ia mendapatkan petunjuk dari Guru mengenai objek meditasi yang sesuai untuknya. Ia pun masuk ke dalam hutan untuk melatih diri, melewati musim hujan di hutan itu.

Namun setelah berupaya dalam latihan selama tiga bulan, ia tidak memperoleh kemajuan apapun. Keraguan  menyerangnya,  “Guru  berkata  ada  empat jenis manusia di dunia ini, saya pasti jenis terendah dari semuanya. Tidak akan ada hasil yang dapat saya capai, baik tingkat kesucian Jalan maupun Buah dari Sotāpanna dalam kelahiran kali ini. Apa gunanya saya tinggal di hutan? Saya akan kembali ke sisi Guru untuk menyaksikan keagungan Beliau dan mendengarkan Dhamma-Nya yang indah.” Maka ia pun kembali ke Jetawana.

Semua teman dan kerabatnya berkata, “Awuso (Āvuso), bukankah  engkau  telah  mendapatkan objek  pelatihan  yang diberikan oleh Guru dan telah pergi untuk berlatih dalam penyepian diri sebagai orang bijak? Sekarang engkau kembali untuk bergabung bersama para bhikkhu lainnya. Apakah engkau telah berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat dan tidak akan mengalami kelahiran kembali lagi?”

“Awuso, saya tidak berhasil mencapai apa pun, baik tingkat kesucian Jalan maupun Buah dari Sotāpanna, saya merasa telah gagal, jadi saya memutuskan untuk menyerah dan kembali lagi ke tempat ini.”

“Awuso, engkau telah melakukan kesalahan, berputus asa di saat engkau telah bertekad untuk melaksanakan ajaran dari seorang Sang Guru. Mari, kami akan membawamu menemui Sang Guru untuk meminta petunjuk-Nya.” Lantas mereka membawanya menemui Sang Guru.

Saat Sang Guru mengetahui kedatangan mereka, Beliau berkata, “Wahai Bhikkhu, kalian membawa seorang bhikkhu yang datang bukan atas kehendaknya. Apa yang telah ia lakukan?”

“Bhante, setelah bertekad melaksanakan ajaran kebenaran  sejati,  bhikkhu  ini  menyerah  dalam  daya  upaya melatih diri hidup menyepi sebagai orang bijak, dan telah kembali ke sini.”

Sang Guru bertanya kepadanya, “Apakah benar, sebagaimana yang mereka katakan, engkau menyerah berdaya upaya dalam pelatihanmu?”
“Hal itu benar adanya, Bhante.”
“Bagaimana hal itu dapat terjadi? Setelah engkau bertekad melaksanakan ajaran ini, mengapa engkau tidak menunjukkan pada dirimu sendiri bahwa engkau adalah orang dengan sedikit keinginan, penuh rasa puas, hidup dalam penyepian dan penuh tekad, melainkan menjadi orang yang kurang berdaya upaya? Bukankah engkau begitu berani di kehidupan lampau? Bukankah berkat kegigihanmu, engkau seorang diri, saat berada di padang pasir bersama para pengikut dan sapi-sapi dari lima ratus buah gerobak, berhasil mendapatkan air dan menerima sorakan kegembiraan? Bagaimana mungkin engkau menyerah sekarang?” Ucapan Guru menyentuh hati bhikkhu itu.

Mendengar perkataan itu, para bhikkhu bertanya pada Sang Buddha, “Bhante, kami tahu jelas keputusasaan bhikkhu pada saat ini; namun kami tidak mengetahui bagaimana berkat kegigihan satu orang, para pengikut dan sapi-sapi mendapatkan air di padang pasir dan akhirnya ia menerima sorakan kegembiraan. Hal ini hanya diketahui oleh Sang Guru, Yang Mahatahu; berkenanlah untuk menceritakan kejadian itu kepada kami.”

“Wahai Bhikkhu, dengarkanlah” tutur Sang Buddha, setelah mereka bersemangat dalam perhatian penuh, Beliau menyampaikan hal yang selama ini tidak mereka ketahui dikarenakan kelahiran kembali.

Suatu ketika di masa lampau, Brahmadatta terlahir sebagai seorang raja di Benares, Negeri Kāsi, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga saudagar. Setelah dewasa, ia selalu melakukan perjalanan untuk berdagang dengan lima ratus buah gerobaknya. Pada suatu kesempatan, ia tiba di sebuah padang pasir yang terbentang sepanjang enam puluh yojana, pasir yang demikian halus, sehingga saat digenggam, mereka dapat melewati sela-sela jari yang paling rapat sekalipun. Sesaat setelah matahari terbit, bentangan pasir itu menjadi  sepanas bara arang yang terbakar, tidak ada seorang pun yang mampu berjalan melintasinya.

Dengan demikian, gerobak-gerobak yang membawa kayu bakar, air, minyak, beras dan sebagainya melintasi dan hanya dapat menempuh perjalanan di kala malam hari. Saat fajar tiba, mereka menyusun gerobak-gerobak dengan membentuk formasi di sekeliling sebagai benteng, memasang tenda di atasnya. Setelah menikmati santapan pagi, mereka senantiasa duduk di bawah tenda sepanjang hari.

Saat matahari terbenam, mereka menikmati santapan malam dan segera setelah permukaan pasirnya lebih dingin, mereka segera mempersiapkan gerobak dan bergerak melintasi padang pasir itu. Menempuh perjalanan di padang pasir seperti itu sama halnya dengan berlayar mengarungi laut; seorang ‘pemandu- gurun’, begitu ia disebut, harus mengiringi mereka dengan cara melihat posisi bintang. Dengan cara demikian juga saudagar kita melintasi padang pasir tersebut.

Saat berada sekitar tujuh mil atau lebih dari padang pasir tersebut, ia berpikir, “Malam ini kami akan keluar dari padang pasir ini.” Jadi setelah selesai menikmati santapan malam, ia memerintahkan para pengikutnya untuk membuang persediaan air dan kayu mereka, mempersiapkan gerobak dan segera memulai perjalanan. Di barisan gerobak terdepan, duduk seorang pemandu, melihat posisi bintang di langit dan memberikan petunjuk arah sesuai dengan pengamatannya.

Namun, karena telah lama tidak tidur, pemandu itu kelelahan dan jatuh tertidur, akibatnya ia tidak mengetahui bahwa sapi telah berjalan memutar arah dan menapaki arah dari mana mereka datang. Sepanjang malam sapi-sapi itu berjalan. Saat fajar, pemandu itu terbangun dan mengamati posisi bintang di atas, kemudian berteriak, “Putar arah gerobaknya! Putar arah gerobaknya!” Saat gerobak-gerobak diputar dan kembali berbaris, hari sudah pagi. “Ini adalah tempat dimana kita berkemah semalam,” teriak orang-orang dalam rombongan itu. “Tidak ada air dan kayu lagi. Kita telah tersesat.”

Selesai berkata, mereka melepaskan sapi dari gerobak, menyusun gerobak dengan membentuk formasi membentengi sekeliling dan memasang tenda di atasnya; kemudian dengan keputusasaan, mereka menghempaskan diri di bawah gerobak masing-masing.

Bodhisatta berpikir, “Jika saya menyerah saat ini, maka semua orang akan kehilangan nyawa.” Ia berjalan ke sana kemari saat hari masih pagi dan permukaan pasir masih dingin, akhirnya ia menemukan serumpun rumput kusa. “Rumput ini,” pikirnya, “hanya bisa tumbuh jika ada air di bawah permukaannya.” Ia memerintahkan mereka mengambil sekop dan menggali sebuah lubang di tempat itu. Setelah menggali hingga mencapai kedalaman enam puluh hasta, sekop berantuk dengan bebatuan; mereka kembali  kehilangan  harapan.

Namun  Bodhisatta  yang merasa yakin akan adanya aliran air di bawah bebatuan, turun masuk ke dalam lubang dan berdiri di atas bebatuan itu. Ia menunduk ke bawah, menempelkan telinganya ke bebatuan dan mendengarkan dengan teliti. Saat telinganya mendengar bunyi aliran air di bawah batu, ia keluar dan berkata  kepada pelayannya yang masih muda, “Anakku, jika engkau menyerah saat ini, kita semua akan kehilangan nyawa. Tunjukkan keyakinan dan keberanianmu. Turunlah ke dalam lubang dengan membawa palu besi besar ini dan hancurkan bebatuan itu.”

Karena patuh pada perintah tuannya, anak laki-laki itu berbulat tekad turun ke dasar sumur dan mulai menghancurkan bebatuan itu, sementara yang lain telah patah semangat. Batu yang membendungi aliran air itu hancur dan jatuh ke dalam lubang. Air menyembur dari lubang itu hingga setinggi pohon lontar. Setiap orang minum dan mandi. Setelah membelah poros roda cadangan gerobak, kayu tengkuk sapi dan perlengkapan lain yang berlebih, mereka menanak nasi dan menghabiskan makanan kemudian memberi makan sapi-sapi.

Begitu matahari terbenam, mereka menancapkan bendera di salah satu sisi sumur dan melanjutkan perjalanan mereka. Sesampai di tempat tujuan, mereka menukar barang-barang muatan mereka dua hingga empat kali lipat dari harga semula. Dengan membawa hasil penukaran itu, mereka pulang ke rumah, tempat dimana mereka menghabiskan sisa hidup mereka dan setelah meninggal, mereka terlahir kembali di alam yang sesuai dengan perbuatan mereka. Demikian juga halnya dengan Bodhisatta, setelah menghabiskan hidupnya dengan kemurahan hati dan perbuatan baik lainnya, ia terlahir kembali di alam sesuai dengan apa yang telah ia perbuat.

Setelah menyampaikan kisah ini, Buddha,  Yang Maha tahu mengucapkan syair berikut ini:
Tanpa mengenal lelah, semakin dalam mereka menggali di tempat berpasir;
sekop demi sekop, sampai akhirnya air ditemukan. Semoga orang bijak, tekun dalam daya upaya; tidak kehilangan semangat maupun merasa letih, hingga kedamaian ditemukan.
Di akhir uraian ini,  Beliau membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Pada akhir khotbah, bhikkhu yang putus asa itu mencapai tingkat kesucian tertinggi, Arahat.

Setelah menceritakan kedua kisah itu, Sang Buddha menjelaskan pertautan keduanya dan memperkenalkan kisah kelahiran itu dengan mengucapkan : — “Bhikkhu yang putus asa ini adalah pelayan muda di masa itu, yang dengan segala daya upaya menghancurkan batu dan mempersembahkan air kepada mereka; para pengikut Buddha adalah anggota rombongan lainnya; Saya sendiri adalah pemimpin mereka.”

 

APANNAKA-JATAKA

Kisah ini  disampaikan oleh  Sang Guru saat Beliau berdiam di sebuah arama di Jetawana (Jetavana), di dekat Kota Sawatthi mengenai  lima  ratus  orang  teman  dari seorang hartawan dan juga merupakan murid dari penganut ajaran sesat3.
Suatu hari, Anāthapiṇḍika, sang hartawan, mengajak teman-temannya, kelima ratus murid dari kelompok lain ke Jetawana, ia membawa untaian kalung bunga, wewangian dan obat-obatan dalam jumlah banyak, di samping itu, terdapat juga minyak, madu, sari gula, kain dan jubah. Setelah memberikan penghormatan kepada Sang Guru, ia mempersembahkan untaian kalung bunga dan sejenisnya kepada Beliau, menyerahkan obat- obatan, barang-barang lainnya, beserta kain kepada Bhikkhu Sanggha (Saṅgha).

Setelah itu, ia duduk di satu sisi agar tidak melanggar enam tata cara dalam memilih tempat duduk. Demikian juga kelima ratus murid dari kelompok lain itu, setelah memberikan penghormatan kepada Buddha, mereka mengambil tempat duduk di dekat Anāthapiṇḍika, menatap ketenangan wajah Sang Buddha, yang bersinar laksana cahaya purnama; keberadaan Beliau  diliputi  tanda-tanda Kebuddhaan,  gemilang bagai cahaya yang menerangi hingga jarak satu depa jauhnya; kecemerlangan agung yang menandai seorang Buddha, laksana untaian bunga yang muncul sepasang demi sepasang.

Kemudian, walaupun dengan nada gemuruh laksana deram singa muda di Lembah Merah, seperti awan badai di musim hujan yang turun bagai Sungai Gangga dari surga5 [96] dan terlihat seperti untaian batu permata; namun ketika menyuarakan    delapan    tingkatan    kesucian    yang    sangat memukau, Beliau membabarkan Dhamma dengan sangat merdu dan dengan berbagai keindahan yang cemerlang kepada mereka.

Setelah mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Buddha,   mereka   bangkit   dengan   niat   untuk   mengubah keyakinan mereka. Dengan memberi penghormatan kepada Yang   Maha tahu,   mereka   meninggalkan   keyakinan   mereka sebelumnya dan berlindung kepada Buddha. Sejak itu, dengan tanpa henti mereka selalu pergi bersama Anāthapiṇḍika, membawa wewangian, untaian bunga dan sejenisnya di tangan mereka; mendengarkan Dhamma di wihara; mereka melatih kemurahan hati, menjaga sila dan menjalankan puasa pada hari- hari uposatha.

Kemudian Sang Buddha meninggalkan Sawatthi untuk kembali ke Rājagaha. Segera setelah Beliau pergi, mereka pun meninggalkan   perlindungan   terhadap   Buddha   dan   kembali berlindung pada ajaran yang semula mereka anut.

Setelah menetap di Rājagaha selama tujuh hingga delapan bulan lamanya, Sang Buddha kembali ke Jetawana. Sekali lagi Anāthapiṇḍika bersama teman-temannya mengunjungi Sang Guru, memberikan penghormatan, mempersembahkan wewangian dan sejenisnya, dan mengambil tempat duduk di satu sisi. Teman-temannya juga memberikan penghormatan kepada Beliau dan mengambil tempat duduk dengan cara yang sama. Kemudian Anāthapiṇḍika memberitahukan kepada Sang Buddha bagaimana teman-temannya meninggalkan perlindungan kepada-Nya, kembali menganut keyakinan mereka yang lama pada saat Buddha melakukan perjalanan pindapata (piṇḍapāta, menerima derma makanan).

Setelah membuka mulut-Nya yang bagaikan seroja, laksana peti harta karun, diliputi semerbak aroma bunga yang amat wangi dan diliputi oleh harumnya kebajikan yang telah Beliau perbuat selama berkalpa-kalpa6 lamanya, dengan suara yang merdu Sang Buddha bertanya, “Benarkah kalian, para Siswa- Ku, meninggalkan Tiga Perlindungan 7 untuk berlindung pada ajaran yang lain?”
Karena sudah tidak dapat menutupi kenyataan tersebut, mereka pun mengakuinya dan berkata, “Hal itu benar adanya, Sang Buddha.” Mendengar hal tersebut, Sang Guru berkata, “Para Siswa, kemuliaan yang timbul dari menjalankan sila dan melaksanakan perbuatan baik lainnya, bukan di antara batasan neraka8 terendah dan surga tertinggi, bukan pula di semua alam tanpa batas yang membentang ke kanan maupun ke kiri, melainkan yang setara, atau sedikit berkurang kemuliaannya dalam hal keunggulan seorang Buddha.”

Lalu Beliau menyampaikan keunggulan dari Tiga Permata sebagaimana telah tercantum dalam kitab suci kepada mereka. Beberapa diantaranya adalah : “Wahai Bhikkhu, semua makhluk, yang tidak berkaki, dan seterusnya, di antara semuanya Buddhalah yang menjadi pemimpin.”; “Kekayaan apapun yang ada, baik di alam ini maupun di alam lainnya dan seterusnya.”;  dan  “Sesungguhnya pemimpin  dari  orang  yang berkeyakinan dan seterusnya.” 

Beliau berkata lebih lanjut, “Tidak ada siswa, baik pria maupun wanita, yang berlindung pada Tiga Permata yang diberkahi dengan keunggulan tiada taranya, yang akan dilahirkan kembali di alam neraka maupun alam sejenis lainnya; melainkan mereka akan terbebaskan dari kelahiran di alam yang menderita, terlahir di alam dewa dan menikmati kejayaan di sana. Karena itulah, jika meninggalkan perlindungan demikian untuk mengikuti ajaran lain, maka kalian telah berjalan ke arah yang salah.”

Berikut adalah kutipan dari kitab suci yang perlu dilantunkan untuk menjelaskan bahwa tiada seorang pun yang mencari pembebasan dan kebahagiaan tertinggi, akan terlahir kembali di alam yang menderita setelah berlindung pada Tiga Permata :

Mereka yang berlindung pada Buddha, tidak akan terlahir ke alam yang menderita; segera setelah mereka meninggalkan alam manusia, wujud Deva kan didapatkannya. 
Mereka yang berlindung pada Dhamma, tidak akan terlahir ke alam yang menderita; segera setelah mereka meninggalkan alam manusia, wujud Deva akan didapatkannya. 
Mereka yang berlindung pada Sangha, tidak akan terlahir ke alam yang menderita; segera setelah mereka meninggalkan alam manusia, wujud Deva akan didapatkannya. 
Berbagai perlindungan yang dicari oleh manusia,
Puncak gunung, keheningan hutan, (dan seterusnya hingga )
Ketika perlindungan demikian telah ia cari dan temukan, ia akan terbebaskan dari segala penderitaan.)

Namun Sang Guru tidak mengakhiri khotbah-Nya sampai di sini. Beliau menambahkan, “Wahai Bhikkhu, meditasi dengan objek renungan terhadap Buddha, Dhamma ataupun Sanggha, akan membawa kita mencapai tingkat kesucian Jalan maupun Buah dari Sotāpanna, Sakadāgāmi, Anāgāmi, dan Arahat .” Setelah selesai membabarkan Dhamma kepada mereka dengan menggunakan berbagai cara, Beliau berkata lebih lanjut, “Jika meninggalkan perlindungan demikian, maka kalian telah berjalan ke arah yang salah.”

Beberapa tingkatan kesucian yang dapat dicapai melalui meditasi dengan objek perenungan Buddha, dan seterusnya; diperjelas lagi melalui beberapa kitab, seperti :  “Wahai Bhikkhu, ada satu hal yang pasti, jika dipraktikkan dan dikembangkan akan menimbulkan rasa tidak suka terhadap kesenangan duniawi, berhentinya nafsu, berakhirnya proses kelahiran,  ketenangan,  menuju  pandangan  terang,  mencapai penerangan sempurna, nibbana. Apakah satu hal itu? —Meditasi  dengan menggunakan objek perenungan terhadap Buddha.”) Ketika Beliau memberikan nasihat kepada para bhikkhu,

Sang Buddha berkata, “Wahai Bhikkhu, di masa lampau, mereka yang berkesimpulan salah, berpandangan bahwa dengan tidak berlindung merupakan perlindungan yang sesungguhnya, akan menjadi  mangsa  dan  dibinasakan  oleh  yaksa  buas  di  hutan belantara berpenghuni siluman; sementara itu, mereka yang yakin terhadap kebenaran sejati tanpa keraguan, mampu bertahan di hutan belantara itu.” Setelah mengucapkan ini, Beliau berdiam diri.

Lalu sambil bangkit dan memberikan hormat kepada Sang Buddha, Upasaka Anāthapiṇḍika mengutarakan pujian, dengan kedua tangan dirangkupkan dengan penuh penghormatan hingga ke dahinya, ia berucap, “Jelas bagi kami, Sang Guru, bahwa saat ini para bhikkhu berjalan ke arah yang salah dengan meninggalkan perlindungan tertinggi. Namun kehancuran yang sudah terjadi bagi mereka yang berpendirian keras di hutan belantara berpenghuni siluman, dan keberhasilan dari mereka yang yakin akan kebenaran, tidak diketahui oleh kami dan hanya diketahui oleh Sang Guru.Semoga Sang Buddha, laksana menerbitkan purnama ke langit, menjelaskan hal ini kepada kami.”

Kemudian Sang Buddha bertutur, “Semata-mata untuk mengatasi persoalan-persoalan       keduniawian, dengan  melaksanakan Sepuluh Kesempurnaan (Dasa Parami) selama berkalpa-kalpa, segala pengetahuan menjadi jelas bagi-Ku. Simak dan dengarkanlah, secermat seperti kalian mengisi sumsum seekor singa ke dalam tabung emas.”

Setelah mendapatkan perhatian penuh dari hartawan, Sang Buddha menjelaskan hal yang selama ini tidak mereka ketahui dikarenakan kelahiran kembali, seolah-olah  Beliau membebaskan purnama dari udara bebas yang tinggi, tempat terbentuknya salju.

Suatu ketika di masa lampau Brahmadatta terlahir sebagai seorang raja di Benares, negeri Kāsi, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga saudagar. Setelah dewasa, ia senantiasa melakukan perjalanan untuk berdagang dengan membawa lima ratus buah gerobak, menempuh perjalanan dari timur ke barat dan sebaliknya. Di Kota Benares juga terdapat seorang saudagar muda lainnya yang dungu dan pendek akal.

Kembali ke kisah ketika Bodhisatta yang siap untuk memulai perjalanannya setelah mengisi kelima ratus buah gerobaknya dengan barang-barang bernilai tinggi yang dihasilkan oleh penduduk Benares. Sama halnya dengan saudagar muda yang dungu itu. Saat itu Bodhisatta berpikir, “Jika si dungu ini berjalan bersamaku sepanjang perjalanan, akan ada seribu gerobak yang beriringan di jalan yang sama. Jalanan akan penuh sesak oleh iringan gerobak. Sulit untuk mendapatkan baik kayu, air dan lainnya yang cukup untuk semua orang, maupun rumput untuk sapi-sapi. “Salah seorang dari kami harus berangkat terlebih dahulu.” Bodhisatta mendatangi dan menyampaikan pandangannya kepada saudagar dungu itu, dengan berkata, “Kita tidak dapat berangkat bersamaan; kamu memilih berangkat terlebih dahulu atau belakangan?” 

Saudagar dungu itu berpikir, “Akan ada banyak keuntungan yang bisa saya peroleh dengan berangkat terlebih dahulu. Jalanan masih bagus dan sapi-sapi akan mendapatkan rumput yang cukup. Para pelayanku akan mendapatkan rempah-rempah untuk kari, air yang masih jernih, dan yang terakhir, sayalah yang menentukan harga saat tukar menukar barang dilakukan.” Maka ia menjawab, “Saya akan berangkat terlebih dahulu, Saudaraku.”

Di sisi lain, Bodhisatta melihat banyak keuntungan dengan berangkat belakangan, Bodhisatta berkata pada dirinya sendiri, “Mereka yang berangkat terlebih dahulu akan meratakan jalan yang berpermukaan tidak rata, barulah saya akan menempuh jalan yang telah mereka lewati; sapi mereka akan memakan rumput tua yang kasar, barulah sapi-sapi saya dapat menikmati rumput muda yang baru tumbuh di sepanjang jalan; para pengikut saya akan mendapatkan rempah-rempah segar yang baru tumbuh setelah tanaman tua dipetik oleh mereka; jika tidak ada sumber air, mereka harus menggali sumur untuk mendapatkan air dan kami dapat minum air dari sumur yang telah ada. Tawar menawar adalah pekerjaan yang sangat melelahkan, dengan berangkat belakangan, saya dapat menukar barang bawaan saya dengan harga yang telah mereka sepakati sebelumnya.”   Dengan   pertimbangan   tersebut,  ia   berkata, “Engkau dapat berangkat terlebih dahulu, Saudaraku.”

“Baiklah, saya akan segera berangkat,” jawab saudagar dungu itu. Ia mempersiapkan gerobak sapinya dan segera memulai perjalanan. Setelah berjalan beberapa saat, ia telah meninggalkan daerah tempat tinggal manusia dan mencapai daerah pinggiran hutan. (Hutan di sini terbagi menjadi lima jenis : —Hutan Perampok, Hutan Binatang Buas, Hutan Tandus, Hutan Siluman dan Hutan Kelaparan. 
Jenis hutan yang pertama adalah hutan yang di sepanjang jalannya ditunggui oleh para perampok; 
Jenis yang kedua adalah hutan yang dihuni oleh singa dan binatang buas lainnya; yang ketiga adalah hutan yang tidak terdapat air untuk mandi maupun minum barang setetes pun; yang keempat adalah hutan yang dihuni oleh siluman di sepanjang jalannya; dan jenis yang kelima adalah hutan dimana akar tanaman maupun makanan lainnya tidak dapat ditemukan. 

Dari kelima jenis hutan di atas, dua jenis yang menjadi masalah besar adalah Hutan Tandus dan Hutan Siluman). Karena itulah si saudagar muda membawa banyak kendi air besar di gerobaknya. Setelah kendi-kendi itu diisi penuh dengan air, ia mulai bergerak melintasi padang tandus selebar enam puluh yojana yang terbentang di hadapannya. Saat ia mencapai jantung hutan, yaksa yang menghuni hutan itu berkata kepada dirinya sendiri, “Saya akan membuat orang-orang ini membuang persediaan air mereka, dan melahap mereka semua saat mereka jatuh pingsan.” Maka  dengan menggunakan kekuatan sihirnya ia menciptakan sebuah kereta megah yang ditarik oleh sapi jantan muda berwarna putih bersih. Yaksa itu bergerak menuju tempat saudagar dungu berada, bersama rombongan yang terdiri dari sekitar sepuluh hingga dua belas yaksa lainnya yang menyandang busur dan tempat anak panah serta membawa pedang dan perisai. 

Ia bertingkah seakan-akan ia adalah seorang raja yang sangat berkuasa di kereta itu, dengan untaian seroja biru dan teratai putih melingkari kepalanya, pakaian dan rambut yang basah, serta roda kereta yang berlepotan lumpur. Para pengawalnya, yang berada di barisan depan dan belakang, juga berada dalam keadaan pakaian dan rambut yang basah, dengan untaian seroja biru dan teratai putih di kepala mereka, membawa rangkaian teratai putih di tangan mereka sambil mengunyah batang bunga segar yang masih berteteskan air dan lumpur. Pemimpin kereta ini mempunyai kebiasaan sebagai berikut: Ketika angin bertiup ke arah mereka, mereka mengendarai kereta di depan dengan para pengawal mengelilingi mereka agar terhindar dari debu; saat angin bertiup searah mereka, mereka berpindah ke bagian belakang jalur. Saat itu, angin berhembus berlawanan arah dengan mereka, dan saudagar dungu itu mengendarai di depan. Yaksa yang telah mengetahui kedatangan saudagar muda tersebut, mendekatkan keretanya ke samping gerobak saudagar itu dan menyapanya dengan ramah sambil bertanya kemana saudagar itu akan pergi. Saudagar dungu membiarkan rombongan gerobak yang lain melewatinya terlebih dahulu, sementara dia menghentikan gerobaknya dan menjawab, “Kami baru saja meninggalkan Benares, Tuan. Saya melihat ada seroja dan teratai di kepala dan tangan Anda, para pengawal Anda juga mengunyah batangan bunga. Selain itu, Anda semuanya berlepotan lumpur dan basah kuyup. Apakah hujan turun selama perjalanan Anda, atau Anda baru saja keluar dari kolam yang dipenuhi oleh seroja dan teratai?”

Yaksa  itu  berseru,  “  Apa  maksudmu  dengan  berkata demikian?  Oh,  di  sebelah  sana,  di  bagian  hutan  yang  agak dalam, air berlimpah-limpah. Di sana, hujan turun sepanjang waktu, sehingga kolam-kolam meluap; dan setiap sudut kolam dipenuhi oleh seroja dan teratai.” 

Setelah rombongan kereta melewati mereka, yaksa itu menanyakan tujuan saudagar itu.   “Ke tempat   seperti   itu,”   jawabnya.   “Apa   saja   barang bawaanmu di gerobak-gerobak itu?” “Ini dan itu.” “Apa yang engkau muat di gerobak terakhir ini karena kelihatannya gerobakmu membawa muatan yang berat sekali?” “Oh, gerobak ini berisi air” “Engkau memang perlu membawa air di sepanjang jalan yang telah engkau lalui. Namun, untuk sisa perjalanan yang belum engkau tempuh, tidak perlu melakukan hal itu lagi, ada persediaan air yang berlimpah di depan sana. Karena itu, pecahkan dan buang saja kendi air itu agar engkau bisa bergerak lebih cepat.” 

Kemudian yaksa itu menambahkan, “Kita telah berhenti cukup lama, sekarang lanjutkanlah perjalananmu.” Setelah  itu,  ia  bergerak  maju  secara  perlahan,  hingga  tidak kelihatan lagi, kemudian kembali ke perkampungan para yaksa, tempat dimana ia tinggal.

Saudagar dungu tersebut benar-benar melakukan apa yang dikatakan oleh yaksa itu, ia memecahkan dan membuang kendi-kendi air itu tanpa menyisakan air setetes pun. Setelah selesai, ia memerintahkan gerobaknya untuk segera melanjutkan perjalanan.  Tidak  setetes  air  pun  yang  mereka  temukan  di
sepanjang  jalan  yang  mereka  lalui,  sementara  itu,  rasa  haus yang teramat sangat mendera, melelahkan mereka. Mereka berjalan terus hingga matahari terbenam. Saat senja tiba, mereka melepaskan sapi dari gerobak, membentuk formasi gerobak untuk membentengi mereka dan menambatkan sapi- sapi itu pada roda gerobak. 

Sapi-sapi tidak mendapatkan air untuk minum, demikian pula saudagar serta para pengikutnya tidak dapat menanak nasi karena tidak ada air; para rombongan yang telah kelelahan itu akhirnya tersungkur ke tanah dan tertidur. Begitu malam tiba, para yaksa muncul dan memangsa mereka semuanya, baik manusia maupun sapi. Setelah melahap habis semua daging hingga yang tersisa hanyalah tulang belulang, para yaksa segera meninggalkan tempat itu. Demikian kedunguan saudagar muda itu menjadi satu-satunya penyebab binasanya rombongan tersebut, sedangkan kelima ratus gerobaknya tak tersentuh di sana.

Enam minggu setelah keberangkatan saudagar dungu itu, Bodhisatta memulai perjalanan-Nya. Ia meninggalkan kota bersama kelima ratus gerobaknya dan dalam sekejap ia telah tiba di pinggir hutan. Sebelum memasuki hutan, ia mengisi kendi- kendi airnya hingga penuh, kemudian dengan bunyi genderang ia mengumpulkan semua pengikutnya di perkemahan itu, ia berkata kepada mereka semuanya, “Jangan sampai ada penggunaan air setetes pun tanpa persetujuan saya. Ada beragam tanaman beracun di hutan ini, jadi jangan ada satu orang pun yang memakan baik daun, bunga maupun buah yang belum pernah dimakan sebelumnya, tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada saya.” Setelah menyampaikan hal tersebut, ia masuk ke dalam hutan bersama kelima ratus buah gerobaknya.

Saat ia mencapai jantung hutan, yaksa itu muncul di jalan yang dilalui oleh Bodhisatta dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Namun segera setelah Beliau menyadari keberadaan yaksa itu, Bodhisatta mengetahui maksud yaksa tersebut; karenanya beliau menimbang, “Tidak ada setetes air pun di sini, di Hutan Tandus ini. Orang yang bermata merah dan bersikap agresif ini tidak memantulkan bayangan. 

Besar kemungkinan ia telah membujuk saudagar dungu yang berangkat sebelum saya untuk membuang persediaan airnya, menunggu hingga mereka kelelahan, lalu memangsa mereka semuanya. Ia tidak tahu kalau saya lebih pintar dan lebih cerdik darinya.” Ia menghardik yaksa itu, “Pergilah! Kami ini pedagang, kami tidak akan membuang persediaan air kami sebelum kami melihat sendiri sumber air yang kamu katakan itu. Jika sumber air itu telah terlihat, mungkin kami mau membuang persediaan air untuk meringankan beban gerobak kami.”

Yaksa itu bergerak maju hingga tidak kelihatan lagi, kemudian kembali ke perkampungan para yaksa, tempat dimana ia tinggal. Setelah yaksa itu pergi, para pengikut Bodhisatta berkata, “Tuanku, kami dengar dari rombongan itu bahwa di depan sana hujan selalu turun. Mereka memakai untaian seroja dan teratai di kepala mereka, mengunyah batangan bunga yang masih segar, dan pakaian serta rambut mereka basah kuyup dengan air yang masih menetes. Mari kita buang persediaan air kita dan bergerak lebih cepat dengan gerobak yang lebih ringan.” Mendengar kata-kata itu, Bodhisatta meminta mereka untuk berhenti dan mengumpulkan mereka semuanya lagi. “Katakan padaku,” ia berkata, “sebelum hari ini adakah di antara kalian yang pernah mendengar adanya kolam atau danau di Hutan Tandus ini?” “Tidak, Tuanku,” jawab para pengikutnya. Bodhisatta berkata lagi, “Itulah sebabnya hutan ini dikenal dengan sebutan Hutan Tandus.”

“Kita baru saja diberitahukan oleh orang-orang bahwa hujan baru saja turun di depan sana, di jalur besar hutan; seberapa jauhkah angin dapat membawa hujan?” “Sekitar satu yojana, Tuan.” “Adakah di antara kalian yang terkena hujan?” “Tidak, Tuan” “Seberapa jauhkah puncak awan topan dapat terlihat?” “Sekitar satu yojana, Tuan.” “Adakah di antara kalian, orang yang melihat adanya puncak awan topan dari sini?” “Tidak, Tuan.” “Seberapa jauhkah kilatan halilintar dapat terlihat?” “Sekitar empat sampai lima yojana, Tuan.” “Apakah ada orang yang melihat kilatan halilintar walaupun hanya seberkas dari sini?” “Tidak, Tuan.” “Seberapa jauhkah gemuruh  petir dapat terdengar?” “Antara dua atau tiga yojana, Tuan.” “Adakah di antara kalian yang mendengar gemuruh petir dari sini?” “Tidak, Tuan.” “Mereka bukanlah manusia, melainkan yaksa. Mereka akan kembali lagi dengan harapan untuk memangsa kita saat kita lemah dan pingsan setelah persediaan air kita buang sesuai dengan bujukan mereka. Karena saudagar muda yang berangkat terlebih dahulu bukanlah orang yang pintar, besar kemungkinan ia telah ditipu untuk membuang persediaan air mereka dan telah dimangsa saat keletihan melanda mereka. Kita mungkin bisa menemukan lima ratus buah gerobak milik saudagar itu di tempat mereka  ditinggalkan  pada  hari  ini  juga.  Mari  kita  teruskan perjalanan  ini  secepat  mungkin,  tanpa  kehilangan  setetes  air pun.”

Dengan menyemangati orang-orangnya dengan kata- kata tersebut, ia meneruskan perjalanan hingga tiba di tempat kelima ratus gerobak yang masih sarat muatan berada, dengan tulang belulang manusia dan sapi tergeletak bertebaran di segala penjuru. Ia melepaskan sapi dari gerobaknya, kemudian menbentuk formasi besar gerobak untuk membentengi mereka; setelah mereka menikmati makan malam mereka, sapi-sapi ditempatkan di tengah lingkaran dengan para pengikutnya mengelilingi sapi-sapi itu; ia sendiri bersama dengan pemimpin rombongannya berdiri berjaga-jaga, dengan pedang di tangan, melewati tiga waktu jaga sampai hari menjelang fajar. 

Keesokan dini hari, setelah sapi-sapi diberi makan dan semua kebutuhan lainnya telah terpenuhi, ia menukar gerobaknya yang telah usang dengan gerobak yang lebih kuat, menukar barang-barangnya dengan barang-barang yang lebih berharga dari gerobak yang telah ditinggalkan itu. Setelah selesai, ia segera meneruskan perjalanan hingga tiba di tempat tujuannya, menukarkan barang- barang muatannya dengan nilai yang berlipat ganda, kemudian pulang kembali ke Benares tanpa kehilangan satu orang pengikut pun.

Saat kisah ini berakhir, Guru berkata, “Wahai Siswa, demikianlah yang  terjadi di kelahiran lampau, ia yang penuh kedunguan menyebabkan terjadinya kebinasaan, sementara ia yang yakin pada kebenaran, lolos dari genggaman yaksa, mencapai tujuannya dengan selamat dan pulang kembali ke rumah mereka.” 
Buddha kemudian mempertautkan kedua kisah itu, lalu mengucapkan syair Dhamma berikut ini
Saat satu-satunya kebenaran yang tiada bandingnya dibabarkan, mereka yang berpandangan salah akan berbicara sebaliknya.
Ia yang bijak mendapat hikmah dari yang didengarnya, menggenggam satu-satunya kebenaran yang tiada taranya.


Demikianlah tuturan Dhamma tentang Kebenaran yang diajarkan oleh Sang Buddha. Beliau berkata lebih lanjut, “Yang disebut hidup sesuai Dhamma tidak hanya diberkahi tiga alam kebahagiaan, enam Alam Kāmaloka, dan alam brahma yang lebih tinggi, namun mencapai tingkat kesucian Arahat [106]; sedangkan hidup tidak sesuai Dhamma menyebabkan kelahiran kembali di empat alam neraka atau lahir menjadi manusia dengan kasta yang paling rendah.” Sang Buddha kemudian menguraikan lebih terperinci mengenai enam belas jalan tentang Empat Kebenaran Mulia13, pada akhir khotbah kelima ratus siswa tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpatti-Phala14.
Setelah Dhamma selesai dibabarkan,Sang Buddha menjelaskan pertautan kedua kisah kelahiran tersebut, “Devadatta adalah saudagar muda yang dungu itu, para pengikut saudagar dungu itu merupakan pengikutnya; pengikut saudagar yang cerdik itu adalah pengikut Buddha, dan saudagar yang cerdik itu adalah Saya sendiri.”








 

MAHA-MANGALA-JATAKA


Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang kitab suci Mahā-maṅgala, atau buku tentang petanda. Di kota Rajagaha, dikarenakan sesuatu hal sekelompok besar orang berkumpul di tempat peristirahatan kerajaan. Dan di antara mereka ada seorang laki-laki yang bangkit dan berjalan keluar dengan berkata, “Hari ini adalah hari dengan petanda baik.”

Orang lain mendengarnya dan berkata, “Kalian dari tadi membicarakan tentang ‘petanda’; apa maksudnya petanda itu?”
Orang yang ketiga berkata, “Penglihatan terhadap segala sesuatu yang membawa keberuntungan adalah petanda baik; misalnya seseorang bangun cepat di pagi hari dan melihat seekor sapi yang benar-benar berwarna putih, atau seorang wanita dengan anak, atau seekor ikan meraH atau sebuah kendi yang diisi penuh, atau keju yang baru dibuat dari susu sapi, atau sebuah pakaian baru yang belum dicuci, atau bubur, maka tidak ada petanda yang lebih baik lagi.”

Beberapa dari pendengar di sana  memuji penjelasan ini: “Bagus sekali,” kata mereka. 

Tetapi yang lainnya menyela, “Semua hal itu bukan petanda. Apa yang Anda dengar itu adalah petanda. Seseorang mendengar orang mengatakan ‘Sepenuhnya,’ kemudian ia mendengar ‘Tumbuh dengan sepenuhnya’ atau ‘Sedang tumbuh’ atau ia mendengar mereka mengatakan ‘Makan’ atau ‘Kunyah’ : tidak ada petanda yang lebih baik dari ini.”

Beberapa pendengar berkata, “Bagus sekali,” dan memuji penjelasan ini. Yang lainnya berkata, “Itu semua bukan petanda. Apa yang Anda sentuh itu adalah petanda. Jika seseorang bangun pagi dan menyentuh tanah, atau menyentuh rumput hijau, kotoran sapi yang masih baru, sebuah jubah yang bersih, seekor ikan merah, emas atau perak, makanan; tidak ada petanda yang lebih baik dari ini.”

Mendengar ini, beberapa pendengar juga setuju dengannya dan mengatakan bahwa itu bagus sekali. Kemudian pendukung dari petanda penglihatan, petanda suara, petanda sentuhan terbagi menjadi tiga kelompok dan tidak dapat saling meyakinkan. Mulai dari dewa di bumi sampai ke alam Brahma, tidak ada yang dapat mengatakan dengan pasti apa itu petanda.

Dewa Sakka berpikir, “Tidak ada seorang pun diantara para dewa dan manusia, kecuali Sang Bhagava yang dapat memecahkan pertanyaan tentang petanda ini. Saya akan pergi menjumpai Beliau dan menanyakan pertanyaan ini.” Maka pada malam hari ia datang mengunjungi Sang Bhagava, menyapa Beliau dan dengan merangkupkan kedua tangannya memohon, ia menanyakan pertanyaan itu dimulai dengan, “Ada banyak dewa dan manusia.”

Kemudian Sang Guru memberitahu dirinya tentang tiga puluh delapan petanda yang dikatakan dalam dua belas bait kalimat. Dan di saat beliau mengucapkan sutta tentang petanda tersebut, para dewa sejumlah sepuluh ribu juta mencapai tingkat kesucian, dan tidak terhitung jumlahnya diantara mereka yang mencapai tiga jalan. Setelah Sakka mendengar tentang petanda itu, ia kembali ke tempat kediamannya sendiri. Di saat Sang Guru selesai mengatakan tentang petanda itu, alam Manusia dan alam Dewa menyetujuinya dan berkata, “Bagus sekali.”

Kemudian di dhammasabhā, mereka memulai pembahasan tentang kebajikan Sang Tathagata: “Āvuso, masalah tentang petanda itu berada diluar jangkauan pikiran yang lain, tetapi Beliau dapat memahami hati para dewa dan manusia dan memecahkan keraguan mereka, seperti memunculkan bulan di langit! Betapa bijaknya Sang Tathagata, teman-temanku!” Sang Guru masuk datang dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan di sana. Mereka memberitahukan Beliau.

Beliau berkata, “Bukanlah hal yang luar biasa, para bhikkhu, saya memecahkan permasalahan tentang petanda tersebut karena saya memiliki kebijaksanaan yang sempurna; bahkan ketika saya berjalan di bumi sebagai Bodhisatta, saya memecahkan keraguan para dewa dan manusia juga dengan menjawab permasalahan tentang Petanda.” Setelah berkata demikian, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

****** 

Dahulu kala Bodhisatta terlahir di sebuah kota dalam sebuah keluarga brahmana yang kaya, dan mereka memberinya nama Rakkhita-Kumāra. Setelah dewasa dan menyelesaikan pendidikannya di Takkasila, ia menikahi seorang istri. Sepeninggal orang tuanya, ia mewarisi harta kekayaannya, kemudian setelah berpikir panjang, ia memberikannya sebagai derma, dan berusaha mengendalikan nafsunya, ia menjadi seorang petapa di daerah pegunungan Himalaya, dimana ia mengembangkan kekuatan supranatural dan tinggal di suatu tempat di sana bertahan hidup dengan memakan akar dan buah-buahan yang terdapat di dalam hutan. Seiring berjalannya waktu, pengikutnya menjadi banyak, terdapat lima ratus siswa yang tinggal dengannya.

Pada suatu hari, para petapa tersebut datang kepada Bodhisatta dan menyapanya: “Bhante, di saat musim hujan tiba, mari kita turun dari Gunung Himalaya dan berjalan ke pedesaan untuk memperoleh bumbu garam; badan kita akan menjadi kuat dan kita akan telah melakukan perjalanan kita.”  Ia berkata, “Baiklah, kalian boleh pergi, tetapi saya akan tetap tinggal di tempat saya berada.” Maka mereka meminta izin darinya dan turun dari Gunung Himalaya melakukan perjalanan sampai mereka tiba di Benares, dimana mereka tinggal di dalam taman kerajaan. Mereka disambut dengan penuh kehormatan dan keramah-tamahan.

Suatu hari ada sekumpulan orang datang bersama di tempat peristirahatan kerajaan di Benares dan masalah petanda itu dibahas. Semuanya terjadi sama seperti yang ada di cerita pembuka di atas. Kemudian, sama seperti sebelumnya, kumpulan orang tersebut melihat bahwa tidak ada yang dapat menenangkan dan menyelesaikan masalah petanda ini, maka mereka menuju ke taman dan menanyakan permasalahan mereka kepada rombongan orang bijak tersebut.

Para orang bijak tersebut berkata kepada raja, “Raja yang agung, kami tidak dapat memecahkan pertanyaan ini, tetapi guru kami, petapa Rakkhita, seseorang yang sangat bijak, yang tinggal di Gunung Himalaya dapat memecahkannya dikarenakan ia memahami pemikiran para dewa dan manusia.”

Raja berkata, “Bhante, Gunung Himalaya letaknya jauh dan sulit dijangkau, kami tidak bisa pergi ke sana. Apakah Bhante bersedia pergi ke tempat guru Anda dan menanyakannya pertanyaan ini, dan ketika telah memahami jawabannya, Anda kembali kemari dan memberitahukannya kepada kami?” Mereka berjanji untuk melakukan ini. 

Mereka kembali kepada guru mereka, menyapanya, dan ia menanyakan tentang keadaan raja dan kegiatan penduduk. Kemudian mereka memberitahukannya semua cerita tentang petanda melalui penglihatan dan seterusnya, mulai dari awal sampai habis dan menjelaskan bagaimana mereka bisa kembali atas permintaan raja untuk mendengar jawaban dari pertanyaan ini dengan telinga mereka sendiri. 
“Bhante, tolong sekarang jelaskan masalah petanda ini kepada kami dan beritahukan kami kebenarannya.” Kemudian siswa yang paling tua menanyakan pertanyaannya dengan mengucapkan bait pertama berikut ini:
Babarkanlah kebenarannya kepada manusia yang kebingungan,  Dan katakan sutta apa, atau kitab suci apa,  Yang dipelajari dan dibabarkan pada saat yang baik, Memberikan berkah dalam kehidupan ini dan berikutnya?
Ketika siswa tertua itu telah menanyakan masalah petanda itu, Sang Mahasatwa menjawab keraguan dari para dewa dan manusia dengan mengatakan, “Ini dan ini adalah petanda,” dan demikian menjelaskan tentang petanda dengan keahlian seorang Buddha, berkata, 
Barang siapa, para dewa dan semua manusia, Hewan melata dan semua makhluk yang dapat kita lihat, Kehormatan selamanya pada hati yang baik, Pastinya mendapatkan semua makhluk mendapat berkah.

Demikian Sang Mahasatwa membabarkan tentang petanda yang pertama, dan kemudian melanjutkan ke yang kedua dan sampai habis:
Barang siapa yang menunjukkan keceriaan yang sepantasnya kepada dunia, Kepada laki-laki dan wanita, putra dan putri tersayang, Yang tidak membalas perkataan yang mencela, Pasti ia mendapat berkah atas setiap teman.
Barang siapa yang pintar, bijak dalam masalah  yang krisis, Tidak memandang rendah teman maupun sahabat, Tidak membedakan kelahiran, kebijaksanaan, kasta ataupun kekayaan, Berkah muncul di antara pasangannya.
Barang siapa yang memilih orang baik dan sejati untuk menjadi temannya, Yang dapat mempercayai dirinya, karena lidahnya tidak mengandung racun, Yang tidak pernah mencelakai seorang teman, yang dapat berbagi kekayaannya, Pasti ia mendapat berkah di antara teman-temannya.
Barang siapa yang istrinya ramah, memiliki usia  yang sama, Berbakti, baik, dan membesarkan banyak anak, Setia, berbuat bajik, dan lahir terhormat, Itu adalah berkah yang muncul dalam diri para istri.
Barang siapa yang memilih rajanya dengan penguasa para makhluk, Yang mengetahui tentang kehidupan suci dan  semua manfaatnya, Dan berkata, ‘Ia adalah temanku,’ tidak dengan  tipu muslihat Itu adalah berkah yang ada bagi para raja.
Penganut yang sejati, memberikan minuman  dan makanan, Bunga dan kalung bunga, minyak wangi, yang bagus, Dengan hati yang damai dan menyebarkan kebahagiaan di sekitarnya Hal ini yang membawa kebahagiaan di alam Surga.
Barang siapa yang oleh orang bijak cara hidup bajik yang bagus, mencoba Dengan segala daya upaya untuk mensucikan, Orang yang baik dan bijak, membangun hidup  yang tenang, Berkah akan tetap mengikutinya.”

Demikianlah Sang Mahasatwa membawa ajarannya sampai ke tingkat tertinggi dalam tingkat kesucian. Setelah menjelaskan tentang petanda dalam delapan bait di atas, ia mengucapkan bait terakhir berikut ini untuk memuji petanda yang sama itu:
Berkah-berkah ini, yang diberikan di dunia ini, Dihormati oleh para orang bijak dan orang besar, Biarkan ia yang bijak mengikuti jejak berkah ini, Karena di dalam petanda tidak ada kebenaran sama sekali.

Para orang suci tersebut tinggal selama tujuh atau delapan hari setelah mendengar tentang petanda ini, dan kemudian pergi kembali ke tempat yang sama.
Raja datang mengunjungi mereka dan menanyakan pertanyaannya. Mereka menjelaskan permasalahan petanda tersebut sama persis dengan bagaimana itu dijelaskan kepada mereka, dan kemudian kembali ke Gunung Himalaya. 

Mulai saat itu, masalah mengenai petanda dimengerti di dunia ini. Dan karena telah memahami tentang permasalahan petanda tersebut, mereka yang meninggal masing-masing terlahir di alam Surga. Bodhisatta mengembangkan Kesempurnaan, dan bersama dengan rombongan pengikutnya mengalami tumimbal lahir di alam Brahma. 

------

Setelah Sang Guru menyampaikan uraiannya, Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini, tetapi juga di masa lampau saya menjelaskan permasalahan petanda ini.” dan kemudian Beliau mempertautkan kisah kelahiran ini—“Pada masa itu, rombongan pengikut Sang Buddha adalah rombongan orang suci; [79] Sariputta adalah siswa yang paling tua, yang menanyakan pertanyaan tentang petanda, dan saya sendiri adalah guru.”
 

CAKKA-VAKA-JATAKA


Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika beradadi Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah. Dikatakan bahwa laki-laki ini tidak merasa puas dengan hasilnya sebagai peminta-minta, ia selalu berkeliling sambil menanyakan, “Dimanakah ada makanan buat para bhikkhu? Dimanakah ada undangan makan?” dan ketika mendengar orang menyebutkan daging, ia akan menjadi sangat gembira.

Kemudian seorang bhikkhu lainnya yang memiliki niat baik karena merasa iba kepadanya memberitahukan Sang Guru tentang masalah ini. Beliau menyuruh orang memanggil bhikkhu tersebut dan bertanya kepadanya, “Apakah benar seperti yang saya dengar, Bhikkhu, bahwa Anda adalah orang yang serakah?”  “Ya, Bhante, itu benar,” jawabnya. 

Sang Guru berkata, “Bhikkhu, mengapa Anda masih memiliki rasa serakah setelah memeluk suatu keyakinan yang sama dengan kami, yang menuntun ke arah penyelamatan? Keadaan diri yang serakah adalah dosa: Di masa lampau, dikarenakan keserakahan, Anda tidak merasa puas dengan bangkai gajah dan bagian dalam hewan lainnya di Benares, Anda pergi ke dalam hutan yang lebat.” Sehabis berkata demikian, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau

*****

Dahulu kala ketika Brahmadatta berkuasa sebagai raja Benares, ada seekor burung gagak yang tidak merasa puas dengan bangkai-bangkai gajah di Benares dan bagian dalam hewan lainnya. Ia berpikir, “Sekarang saya ingin tahu seperti apakah rasanya di dalam hutan itu?” Maka ia pun pergi ke dalam hutan, tetapi ia juga tidak dapat merasa puas dengan buah-buahan liar yang ia temukan di sana.

Kemudian ia pergi ke sungai Gangga. Sewaktu melewati tepi sungai Gangga, ia melihat sepasang angsa merah dan berpikir, “Unggas yang ada di sana sangat cantik sekali; menurutku mereka pasti mendapatkan banyak daging untuk dimakan di tepi sungai Gangga ini. Saya akan bertanya kepada mereka, dan saya juga akan memiliki warna tubuh yang bagus seperti mereka jika saya memakan apa yang mereka makan.” Jadi dengan bertengger di tempat yang tidak jauh dari pasangan angsa tersebut, ia bertanya kepada mereka dengan mengucapkan dua bait kalimat berikut:
Anda berdua memiliki warna yang bagus, bentuk yang indah, badan yang berdaging, dengan warna merah, O angsa! Saya yakin kalian adalah yang paling cantik, wajah dan indera kalian begitu cerah dan sejati!
Dengan berada di tepi sungai Gangga, kalian memakan ikan berduri dan ikan air tawar, Lipas, ikan berduri lembut dan ikan lainnya yang hidup di sepanjang aliran sungai Gangga ini!

Kemudian angsa merah tersebut membantah perkataannya dengan mengucapkan bait ketiga berikut:
Tidak ada daging di sungai ini yang saya makan, ataupun yang ada di dalam hutan: Semua jenis tumbuhan saya makan itu; Teman, hanya itulah makananku.”

Kemudian gagak mengucapkan dua bait kalimat lagi:
Saya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh angsa itu tentang makanannya. Yang saya makan di desa adalah makanan yang diberi garam dan minyak, Setumpuk nasi, bersih dan enak, yang disediakan  oleh manusia Dengan dagingnya; akan tetapi, angsa, warna tubuhku tidak bisa seperti punya kalian.
Karena perkataannya tersebut, angsa merah yang satunya lagi mengucapkan sisa bait kalimat berikut untuk menunjukkan alasan bagi warnanya yang tidak bagus, dan memaparkan kebenarannya:
Dengan memiliki dosa di dalam hatimu, yang menghancurkan manusia, Dalam rasa takut dan cemas Anda makan makananmu; demikianlah Anda mendapatkan warna itu.
Gagak, Anda telah berbuat salah di dunia dengan dosa yang diperbuat di kehidupan masa lampau, Anda tidak pernah merasa senang dengan makananmu; inilah yang memberi Anda warna itu.
Sedangkan saya, teman, makan dan tidak melukai orang, tidak cemas, dan perasaan tenang, tidak memiliki masalah, tidak takut apapun dari musuh-musuh.
Jadi hal demikian yang harus Anda jalankan, dan kebajikan akan bertambah, Hidup di dunia ini dan jangan melukai sehingga nantinya orang lain akan menyukai dan memuji.
Barang siapa yang bersikap dengan baik kepada semua makhluk hidup, tidak melukai dan dilukai, Barang siapa yang tidak mengganggu, tidak yang mengganggu dirinya, tidak ditemukan kebencian dalam dirinya.”
Oleh karena itu, jika Anda ingin disukai dunia ini, jauhkan diri dalam nafsu keinginan yang buruk,”

Demikian yang katakan angsa merah tersebut dengan mengatakan kebenarannya. Gagak menjawabnya, “Jangan berbohong kepadaku dengan mengatakan cara kalian makan!” dan dengan mengeluarkan suara “Caw!Caw!” ia terbang ke atas menuju ke tempat tumpukan kotoran di Benares.

-----

Setelah Sang Guru selesai menceritakan kisah ini, Beliau memaparkan kebenarannya: (Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang tadinya serakah itu mencapai tingkat kesucian anagami): “Pada masa itu, bhikkhu ini adalah burung gagak, Ibu Rahula  adalah pasangan dari angsa merah ini dan saya sendiri adalah angsa merah.”

 

BILARI-KOSIYA-JATAKA


Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang mengabdikan dirinya dalam pembagian dana. Diceritakan bahwa bhikkhu ini mencurahkan dirinya dalam pembagian dana, menjadi sangat ingin  mulai dari waktu setelah ia selesai mendengar khotbah Dhamma dan mengamalkannya. Ia tidak pernah habis memakan semangkuk nasi kalau tidak dibagi dengan yang lain, bahkan ia juga tidak akan minum air kalau ia tidak membaginya dengan yang lain; demikian larutnya ia dalam pembagian.

Kemudian mereka mulai membicarakan sifat baiknya itu di dhammasabhā. Sang Guru datang dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan di sana. Mereka memberitahukan Beliau. Setelah meminta orang memanggil bhikkhu itu, Beliau bertanya kepadanya, “Apakah benar apa yang saya dengar, bhikkhu, bahwa Anda begitu mengabdikan diri dalam pembagian dana, sangat ingin berdana?”  Ia menjawab, “Ya, Bhante.”

Sang Guru berkata lagi, “Di masa lampau, para bhikkhu, laki-laki ini adalah orang yang tidak memiliki keyakinan dan kepercayaan, ia tidak akan memberikan setetes air di ujung sehelai rumput kepada siapapun; kemudian saya membuatnya sadar, mengubah cara berpikirnya dan juga membuat dirinya menjadi rendah hati, mengajarkannya tentang hasil dari memberikan dana. Dan hatinya yang demikian dermawan ini tidak hilang dari dirinya bahkan sampai di kehidupannya yang lain.” Setelah berkata demikian, Beliau menceritakan kisah masa lampau.

******

Dahulu kala ketika Brahmadatta berkuasa di Benares, Bodhisatta terlahir di dalam keluarga orang kaya. Setelah beranjak dewasa, ia mendapatkan harta bagiannya; dan setelah ayahnya meninggal, ia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai seorang saudagar.

Suatu hari ketika ia melihat kembali harta kekayaannya, ia berpikir, “Harta kekayaan ada di sini, tetapi dimana orang-orang yang mengumpulkannya? Saya harus membagikan harta kekayaanku ini, dan memberikan derma.” Maka ia membangun sebuah dānasālā. Semasa hidup, ia memberikan banyak derma dan ketika hari-harinya di dunia sudah hampir habis, ia menugaskan putranya untuk tetap melakukan pemberian derma. Setelah meninggal, ia tumimbal lahir menjadi Dewa Sakka di alam tiga puluh tiga dewa (Tavatimsa). Dan putranya, yang juga memberikan derma sama seperti ayahnya, terlahir menjadi Canda, sang Bulan, di antara para dewa. Dan putra dari Canda terlahir menjadi Suriya, sang Matahari; putra dari Suriya terlahir menjadi Mātali (Matali), si Penunggang Kereta; putra dari Matali terlahir menjadi Pañcasikha, salah satu dari Gandhabba atau pemain musik di alam Surga.

Akan tetapi generasi yang keenam adalah orang yang tidak memiliki keyakinan, berhati keras, tidak memiliki cinta kasih, sangat kikir. Ia menghancurkan dānasālā, memukuli para pengemis dan mengusir mereka untuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing, ia bahkan tidak akan memberikan setetes air di ujung sehelai rumput kepada siapapun.

Kemudian Sakka, raja para dewa, melihat kembali perbuatannya di masa lampau sambil ingin mencari tahu, “Apakah tradisi pemberian derma masih berlanjut atau tidak?” Sewaktu memikirkan hal tersebut, ia mengetahui ini: “Putraku tetap melanjutkan pemberian dermanya dan sekarang ia telah menjadi Canda; putranya menjadi Suriya, dan putranya menjadi Matali, dan putranya menjadi Pañcasikha; tetapi keturunan yang keenam telah menghancurkan tradisi ini.” 

Kemudian terlintas dalam pikirannya, ia akan membuat laki-laki yang berdosa ini menjadi sadar dan mengajarkannya tentang pahala dari pemberian derma. Maka ia memanggil Canda, Suriya, Matali, Pañcasikha, dan berkata, “Para dewa, keturunan keenam dari keluarga kita telah menghancurkan tradisi keluarga kita; ia telah membakar dānasālā, mengusir para pengemis dan tidak memberikan apapun kepada siapapun. Mari kita menyadarkan dirinya!” Maka dengan mereka akhirnya ia menuju ke kota Benares.

Pada waktu itu, saudagar tersebut telah pergi menunggui raja. Sekembalinya dari istana, ia berjalan lewat di pintu menara ketujuh sambil melihat ke arah jalan. Sakka berkata kepada yang lainnya, “Kalian tunggu di sini ketika saya maju dan kemudian satu per satu mengikutiku.” Setelah berkata demikian, ia maju dan berdiri di hadapan saudagar kaya tersebut, ia berkata, “Hai, Tuan! Berikan saya makanan!”—“Tidak ada yang dapat dimakan olehmu di sini, brahmana; pergilah ke tempat lain.”
“Hai, Tuan yang agung! Ketika brahmana meminta makanan, janganlah menolaknya!”
“Di rumahku, brahmana, tidak masak makanan ataupun makanan yang dipersiapkan untuk dimasak; pergilah!”
“Tuan yang agung, saya akan membacakan satu bait puisi,—Dengar.”
“Saya tidak menginginkan puisimu; pergilah, jangan hanya berdiri di sini.”
Tetapi Sakka mengucapkan dua bait kalimat ini tanpa menghiraukan perkataannya:
Ketika tidak ada makanan di dalam tempayan, yang baik pasti akan mendapatkan, tanpa diragukan lagi: Dan Anda yang memasak! Bukanlah suatu hal yang bagus jika Anda tidak menyediakan makanan sekarang.
Ia yang lalai dan kikir, akan diragukan: Tetapi ia yang menyukai kebajikan, akan memberi, dan ia memiliki pikiran yang bijaksana.

Ketika laki-laki ini mendengar hal ini, ia menjawab, “Baiklah, masuk dan duduklah. Anda akan mendapatkan sedikit makanan. Selesai mengucapkan bait-bait tersebut, Sakka masuk ke dalam dan duduk.

Kemudian Canda datang dan meminta makanan. “Tidak ada makanan untukmu,” kata laki-laki itu, “Pergilah!”
“Tuan yang agung, ada seorang brahmana di dalam sana, menurutku pasti ada makanan gratis buat brahmana itu, maka saya juga akan ikut masuk.”
“Tidak ada makanan gratis bagi seorang brahmana!” kata laki-laki itu, “Pergilah Anda!”

Kemudian Canda berkata, “Tuan besar, tolong dengarkan satu atau dua bait kalimat berikut: (Kapan saja orang kikir yang mengerikan tidak memberikan apa-apa, hal yang paling ia takuti akan muncul padanya karena ia tidak memberikan apa-apa:)—
“Ketika rasa takut akan kelaparan dan kehausan membuat jiwa orang yang kikir menjadi takut, Di dalam kehidupan ini atau berikutnya orang bodoh ini akan membayarnya.

Oleh karena itu  belajarlah memberikan derma, bebaskan diri dari keserakahan, hilangkan benih keserakahan,  Di kehidupan yang akan datang perbuatan bajik orang yang demikian akan menuntunnya kepada kepastian.

Setelah mendengar perkataan ini juga, laki-laki itu berkata, “Baiklah, masuk dan makanlah sedikit.” Ia pun bergerak masuk dan duduk dengan Sakka.
Setelah menunggu beberapa lama, Suriya datang dan meminta makanan dengan mengucapkan dua bait kalimat berikut:
Hal ini sulit dilakukan sebagaimana yang dilakukan orang baik, yaitu memberi apa yang dapat mereka beri,  Orang yang jahat tidak dapat mencontoh kehidupan yang dijalani oleh orang baik.
Dan demikian, ketika yang baik dan yang jahat meninggalkan bumi ini, Yang jahat akan terlahir di alam Neraka, dan yang baik akan terlahir di alam Surga.

Laki-laki kaya tersebut yang tidak melihat ada bantahan dalam hal tersebut, berkata kepadanya, “Baiklah, masuk dan duduk bersama dengan para brahmana ini. Anda akan mendapatkan jatah makanan sedikit.” 

Kemudian Matali muncul setelah menunggu beberapa lama dan meminta makanan. Ketika ia diberitahu bahwa tidak ada makanan, ia langsung mengucapkan bait kedelapan berikut ini:
Sebagian orang memberi mulai dari jumlah yang sedikit, sebagian lagi tidak memberi meskipun mempunyai simpanan yang banyak: Barang siapa yang memberi mulai dari jumlah kecil, lama-lama akan menjadi banyak.”

Laki-laki itu juga berkata kepadanya, “Baiklah, masuk dan duduklah.” 
Kemudian setelah menunggu beberapa lama, Pañcasikha datang dan meminta makanan. “Tidak ada makanan lagi, pergilah,” itulah balasan yang terdengar. Ia berkata, “Betapa banyak tempat yang telah saya kunjungi! Pasti ada makanan gratis  bagi para brahmana di sini .” Dan ia mulai berkata kepadanya dengan mengucapkan bait Kedelapan berikut ini:
Bahkan ia yang hidup dengan memakan makanan sisa akan berbuat baik, Memberikan sedikit yang dimilikinya, meskipun ia sendiri memiliki anak;  Uang ratusan ribu yang diberikan oleh harta kekayaan, Tidak dapat menandingi pemberian kecil dari orang yang demikian.
 Laki-laki kaya itu berpikir sejenak sewaktu mendengar khotbah dari Pañcasikha. Kemudian ia mengucapkan bait kesembilan berikut untuk meminta penjelasan atas nilai dari pemberian kecil tersebut:
Mengapa pemberian yang kaya dan dermawan Tidak sebanding dengan pemberian yang benar, Bagaimana uang ribuan, yang diberikan oleh orang kaya, Tidak sebanding dengan pemberian orang yang miskin meskipun sedikit jumlahnya?

Dalam menjawabnya, Pañcasikha mengucapkan bait terakhir berikut :
Sebagian orang menjalani hidup dengan jalan  yang salah Menindas, dan menganiaya, kemudian baru memberikan kenyamanan:
Pemberian mereka yang keji dan pahit itu tidak bernilai Dibandingkan dengan pemberian yang benar. Demikian uang ribuan dari orang kaya tidak dapat Menandingi pemberian dari orang demikian meskipun sedikit jumlahnya.”

Setelah mendengar nasehat dari Pañcasikha, laki-laki itu membalasnya dengan berkata, “Baiklah, masuk ke dalam dan duduklah. Anda akan mendapatkan jatah makanan sedikit.” Dan ia juga masuk ke dalam, duduk dengan yang lainnya.

Kemudian saudagar kaya tersebut, Biḷārikosiya, memanggil pelayan wanitanya dan berkata, “Berikan para brahmana yang ada di sana segenggam beras sekam.” Ia membawakan nasinya dan mendekat kepada mereka, meminta mereka memasaknya sendiri dan makan.
Mereka berkata, “Kami belum pernah menyentuh beras sekam.
“Tuan, mereka mengatakan bahwa mereka belum pernah menyentuh beras sekam!”
“Baiklah, berikan mereka beras sekam.” Ia pun membawakan mereka beras dan meminta mereka membawanya.
Mereka berkata, “Kami tidak menerima makanan yang belum dimasak.”
“Tuan, mereka mengatakan bahwa mereka tidak menerima makanan yang belum dimasak!
“Kalau begitu, masak makanan sapi di dalam panci dan berikan itu kepada mereka.”

Ia memasak makanan sapi di dalam panci dan membawakannya kepada mereka. Mereka berlima mengambil satu suap dan memasukkannya ke dalam mulut, tetapi makanannya tersangkut di tenggorokan; kemudian mata mereka seperti berputar-putar, menjadi pingsan dan berbaring seolah-olah mereka mati. Pelayan wanita yang menyajikan makanan tersebut yang melihat kejadian ini berpikir bahwa mereka pasti sudah mati dan menjadi sangat takut, kemudian memberitahu saudagar itu dengan mengatakan, “Tuan, para brahmana itu tidak dapat menelan makanan sapi, dan sekarang mereka sudah meninggal!” 

Saudagar itu berpikir, “Sekarang orang-orang akan mencela diriku dengan mengatakan, orang jahat ini memberikan setumpuk makanan sapi kepada para brahmana yang baik tersebut, yang tidak dapat mereka telan dan akibatnya mereka meninggal!”

Kemudian ia berkata kepada pelayannya, “Cepat ambil makanan itu dari patta mereka dan masak nasi yang terbaik untuk ditaruh di dalamnya.” Pelayan itu mengerjakan apa yang diperintahkan. Saudagar tersebut membawa beberapa orang yang berjalan lewat ke dalam rumahnya, dan setelah mereka terkumpul agak banyak, ia berkata, “Saya memberikan makanan kepada para brahmana ini sama dengan apa yang saya makan, mereka makan dengan terlalu serakah dan memakan dengan suapan yang besar sehingga saat mereka sedang makan, ada makanan yang tersangkut di tenggorokan dan mereka meninggal. Saya membawa Anda sekalian kemari agar dapat menyaksikan bahwa saya tidak bersalah.”

Para brahmana itu bangkit di hadapan kerumunan orang banyak tersebut dan berkata, “Lihatlah kebohongan yang dibuat saudagar ini! Katanya ia memberikan kami apa yang dimakannya! Pada awalnya ia memberikan kami setumpuk makanan sapi dan kemudian di saat kami terbaring tak sadarkan diri, baru ia memasak makanan ini.” Dan mereka mengeluarkan makanan yang mereka makan dari dalam mulut dan menunujukkannya.

Kerumunan orang itu mencela saudagar tersebut, sambil meneriakkan, “Orang buta yang dungu! Anda telah menghancurkan tradisi keluargamu; Anda telah membakar dānasālā; Anda menyeret leher para pengemis dan mengusir mereka; dan sekarang ketika memberikan makanan kepada para brahmana ini, Anda memberikan setumpuk makanan sapi! Di saat Anda meninggal, menurutku, Anda akan membawa pergi semua harta kekayaan di dalam rumahmu dengan mengikatnya di lehermu!”

Pada waktu itu, Sakka bertanya kepada kerumunan orang tersebut, “Apakah kalian tahu milik siapa harta kekayaan ini semuanya?”
“Kami tidak tahu.”
“Kalian pernah mendengar tentang seorang saudagar agung dari kota Benares, yang hidup di kota ini sebelumnya dan membangun dānasālā tersebut serta banyak memberikan derma?”
“Kami pernah mendengarnya.”
“Saya adalah saudagar tersebut, dan dikarenakan jasa kebajikan tersebut sekarang saya tumimbal lahir menjadi Sakka, raja para dewa; dan putraku, yang tidak menghancurkan tradisi, menjadi seorang dewa, Canda; putranya adalah Suriya; putranya adalah Matali; dan putranya adalah Pañcasikha; Yang di sana adalah Canda, itu adalah Suriya, dan ini adalah Matali  si Penunggang Kereta dan yang ini lagi adalah Pañcasikha, seorang pemusik di alam Surga, yang juga dalam kehidupan awamnya adalah ayah dari orang yang jahat di sana! Demikianlah pahala dari memberikan derma. Oleh karena itu, orang yang bijak harus melakukan kebajikan.” Setelah berbicara demikian, untuk menghilangkan keraguan orang-orang tersebut, mereka melayang di udara dan tetap berada di sana.

Dengan kekuatan mereka yang besar terdapat sinar yang melingkari badan mereka sehingga membuat kota kelihatan seperti sedang terbakar. Kemudian Sakka berkata kepada kerumunan orang tersebut, “Kami meninggalkan kejayaan surgawi untuk datang kemari, dan kami datang dikarenakan pendosa ini Biḷārikosiya, keturunan terakhir dari keluarganya, si penghancur semua keluarganya. Kami datang karena mengasihaninya, karena kami tahu bahwa pendosa ini telah menghancurkan tradisi keluarga, membakar dānasālā, mengusir para pengemis dengan menyeret leher mereka, dan melanggar adat keluarga kami. Dengan memberhentikan pemberian derma itu akan menyebabkan dirinya tumimbal lahir di alam Neraka.” Demikianlah ia berbicara kepada kerumunan orang banyak tersebut dengan mengatakan tentang pahala dari pemberian derma.

Biḷārikosiya merangkupkan kedua tangannya memohon dan mengucapkan sumpah; “Tuanku, mulai saat ini saya tidak akan melanggar adat tradisi keluarga, saya akan memberikan derma. Dan dimulai dari hari ini juga, saya tidak akan makan  tanpa membagikan makananku kepada orang lain, bahkan air minum dan pembersih gigi yang saya gunakan.”

Setelah Sakka demikian membuatnya sadar, membuatnya berjanji kepada diri sendiri dan membuatnya mematuhi Pancasila (Buddhis), ia kembali ke tempat kediaman sendiri dengan membawa keempat dewa itu bersamanya. Akhirnya saudagar itu memberikan derma sepanjang hidupnya dan terlahir di alam Tavatimsa.

-------

Sang Guru berkata setelah menyampaikan uraiannya, “Demikianlah, para bhikkhu, upasaka ini dulunya tidak memiliki keyakinan dan tidak pernah memberi kepada siapapun meskipun secuil. Akan tetapi, saya membuatnya sadar dan mengajarkannya tentang pahala dari pemberian derma, dan pikiran itu tidak meninggalkannya, bahkan sampai di kehidupan yang selanjutnya.” Kemudian Beliau mempertautkan kisah kelahiran ini: “Pada masa itu, upasaka yang dermawan ini adalah laki-laki kaya tersebut, Sariputta adalah Canda, Mogallana adalah Suriya, Kassapa adalah Matali, Ananda adalah Pañcasikha dan saya sendiri adalah Dewa Sakka.”
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Copyright © 2011. Cerita Jataka - Kisah Sang Buddha Gautama pada masa kelahiran lampau - All Rights Reserved
Template Proudly powered by Blogger