ALINACITTA-JATAKA



Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana tentang bhikkhu yang berhenti berusaha. Ketika Sang Guru bertanya kepada bhikkhu ini apakah benar dia telah berhenti berusaha seperti yang dilaporkan, dia menjawab, “Ya. Yang Terberkahi” 

Terhadap hal ini, Sang Guru berkata, “Bhikkhu, pada masa lampau bukankah Anda mendapatkan kekuasaan penuh atas Kerajaan Benares, dua belas yojana setiap sisi dan memberikannya kepada seorang bayi laki-laki, seperti potongan daging dan tidak lebih dari itu dan semua itu hanyalah dengan usaha ? Dan sekarang anda telah memeluk ajaran yang akan memberikan pembebasan, mengapa anda harus berhenti berusaha ?" 
Kemudian beliau pun menceritakan sebuah kisah masa lampau.


Dahulu kala, ketika Brahmadatta adalah Raja Benars, ada sebuah desa tukang kayu yang tidak jauh dari kota, tempat lima ratus orang tukang kayu tinggal. Mereka biasanya mendayung ke hulu sungai dengan sebuah kapal dan masuk ke dalam hutan, tempat mereka membuat balok dan papan untuk membangun rumah, mengumpulkan kerangka untuk rumah-rumah satu atau dua tingkat, memberi normal semua potongan mulai dari balok utama, semuanya ini kemudian mereka bawa ke tepi sungai dan menaikkannya ke kapal kemudian mendayung ke hilir sungai lagi, mereka selanjutnya akan membangun rumah-rumah sesuai pesanan; Setelah itu, kalau mereka telah menerima upah, mereka akan kembali lagi untuk bahan baku yang lebih banyak untuk bangunan itu, demikianlah mata pencaharian mereka.

Suatu hari, di tempat mereka bekerja untuk mengukir kayu, seekor gajah memijak serpihan kayu akasia dan tertusuk kakinya yang menyebabkan kakinya bengkak dan bernanah serta dia sangat kesakitan. 

Pada puncak kesakitannya, dia menangkap suara para tukang kayu yang sedang memotong kayu, “Bakal ada orang yang akan mengobati saya.” Pikirnya dan dengan terpincang-pincang, dia memunculkan diri di depan mereka dan berbaring di situ. 
Para tukang kayu melihatnya dan segera mengetahui kakinya bengkak pergi melihat, ternyata ada serpihan kayu yang tertusuk di kakinya. Dengan sebuah alat yang tajam , mereka mengiris serpihan kayu tersebut dan mengikatnya dengan sepotong tali kemudian menariknya keluar. Mereka kemudian membuka luka itu dan mencucinya dengan air hangat serta mengobatinya dengan baik, dan dalam waktu relative singkat, luka itu pun sembuh.

Karena rasa terima kasih atas pengobatan ini, sang gajah berpikir, “Nyawaku telah diselamatkan oleh para tukang kayu ini. Sekarang saya harus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi mereka.” 

Jadi semenjak itu, dia pun digunakan untuk mencabut pohon-pohon atau kalau mereka sedang memotong kayu, dialah yang mengangkat balok-balok itu atau membawakan mereka kapak atau perkakas yang diperlukan, memegang segalanya sekuat-kutanya dengan belalai, dan para tukang kayu, pada saat memberi makan kepadanya, biasanya mereka masing-masing akan emmbawa sepotong makanan jadi keseluruhannya dia akan menerima 500 potong makanan.

Gajah ini mempunyai seorang anak, badannya serba putih, jenis keturunan yang sangat baik. Sang induk gajah berpikir bahwa dia sekarang sudah tua dan sebaiknya membawa anaknya untuk membantu para tukang kayu dan dia sendiri bebas pergi. 

Jadi tanpa sepatah katapun kepada para tukang kayu, dia pergi ke dalam hutan dan membawa anaknya kepada mereka dan berkata, “Gajah muda ini adalah anakku, kalian telah menyelamatkan nyawaku dan saya akan berikan dia kepada kalian sebagai balasan atas pengobatan kalian. Mulai saat ini, dia akan bekerja untuk kalian!” kemudian dia juga menjelaskan kepada gajah muda itu sudah menjadi kewajibannya untuk mengerjakan apa yang biasa dia lakukan kepada para tukang kayu itu. 

Dan kemudian dia pun masuk ke dalam hutan, meninggalkannya dengan para tukang kayu, demikanlah, sejak saat itu, gajah muda tersebut melakukan semua tugasnya dengan setia dan patuh dan mereka juga memberinya makan seperti yang diberikan kepada gajah sebelumnya.

Gajah muda ini sangat senang pergi bermain di sungai kalau pekerjaannya sudah selesai dan dia akan selalu kembali. Anak-anak tukang kayu suka menarik belalainya dan bersenda gurau dengannya baik di dalam air maupun darat. Sebagai makhluk mulia,  apakah mereka itu gajah, manusia, atau pun semut, mereka tidak akan pernah membuang kotoran di dalam air. Jadi gajah ini juga demikian, dia akan menunggu sampai keluar ke tepi sungai.

Suatu hari,  terjadi hujan lebat dan air membanjiri sungai serta kotoran-kotoran yang setengah kering terbawa ke dalam sungai, terhanyut dan tersangkut ke semak-semak sampai ke Benares. 

Tidak lama setelah itu, para penjaga gajah raja membawa lima ratus gajah untuk dimandikan. Tetapi para gajah itu mencium bau tanah itu berasal dari seekor binatang mulia, dan tidak ada satupun yang berani masuk ke dalam air malahan mengangkat ekor mereka dan berlarian pergi. Para penjaga gajah menceritakan hal ini pada para pawang gajah; mereka pun menjawab,” Kalau begitu, pasti ada sesuatu di dalam air!”  maka perintah diberikan untuk membersihkan air itu dan terlihatlah gumpalan kotoran tersebut didalam semak. “Itu masalahnya !” teriak mereka kegirangan dan meraka membawa sebuah botol dan mengisinya dengan air dan memasukkan benda itu ke dalamnya dan memerciki air itu gajah-gajah dan sekejap kemudian, badan mereka menjadi sangat wangi dan secara bersamaan, mereka pun turun ke sungai dan mandi.

Ketika para pawang melaporkan hal ini kepada raja, mereka memberikan saran kepada raja untuk menangkap gajah tersebut dan dipergunakan untuk kepentingannya. Maka raja pun berangkat dengan kapal dan menganyuh ke hulu sungai sampai dia tiba di tempat para tukang kayu itu tinggal. 

Gajah muda setelah mendengar suara gendering ketika sedang bermain di air, keluar dan menghadap para tukang kayu. Semua datang memberi hormat atas kedatangan raja dam berkata, “Paduka, jika hasil kerajinan kayu yang diinginkan, apa perlu datang ke mari ? Mengapa tidak mengutus pengawal datang saja dan kami akan mempersembahkannya untukmu ?”
“Bukan, bukan, teman baikku,” jawab raja ,”saya kemari karena menginginkan gajah ini.”
“Dia milikmu, Paduka !”  tetapi sang gajah menolak untuk bergerak.
“Apa yang harus saya lakukan untuk anda, gajah yang telah menjadi bahan pembicaraan ?” tanya sang raja.
“Perintahkan untuk membayar para tukang kayu atas apa yang telah mereka habiskan untuk saya, Paduka.”
“Dengan senang hati, teman.” Dan raja pun memerintahkan untuk memberikan seratus keping uang untuk ekor, belalai dan juga keempat kakinya. Tetapi ini tidak cukup untuk sang gajah. 

Dia belum mau pergi, jadi untuk setiap tukang kayu diberikan sepasang pakaian dan utuk setiap istri mereka, jubah dipakai, dia masih merasa tidak cukup karena teman mainnya, anak-anak masih harus diasuh, kemudian dengan melihat terakhir kalinya kepada para tukang kayu dan keluarganya, dia pun berangkat bersama dengan sang raja.

Raja membawanya ke pusat kota yang dihiasi dengan megah, dia memimpin sang gajah keliling kota dengan berpradaksina dan kemudian ke dalam kandangnya, yang telah diatur dengan indah dan megah. Disana, dia memerciki sanga gajah dengan khidmat dan menunjuknya sebagai tunggangannya sendiri, seperti seorang sahabat,dia memperlakukannya dan memberikannya separuh dari kerajaannya, menjaganya seperti dia menjaga dirinya sendiri. Setelah kedatangan gajah itu, raja memenangkan kekuasaan penuh diseluruh Jambudipa.

Sejalan dengan waktu, permaisuri mengandung Bodhisatta, dan pada saat telah dekat dengan waktu melahirkan, sang raja wafat. Jika sang gajah mengetahui kematian sang raja, dia pasti akan merasa sedih sekali; jadi dia pun tetap dilayani seperti sebelumnya dan tidak ada sepatah katapun yang dikatakan kepadanya. 

Tetapi tetangga, Raja Kosala, ketika mendengar kematian Raja Benares, “Pastilah daerah kekuasaanya akan menjadi daerah kekuasaan aku!” pikirnya dan dia menggerakkan satu pasukan kuat ke kita dan mengepungnya. Gerbang-gerbang telah ditutup semua dan sebuah pesan dikirim ke Raja Kosala,” Permaisuri kami sedang dekat dengan waktu melahirkan dan para ahli bintang telah meramalkan dalan tujuh hari dia bakal melahirkan seorang putra. Jika dia benar melahirkan seorang putra, kami tidak akan menyerahkan kerajaan ini, tetapi pada hari ketujuh kita akan bertempur, Untuk waktu selama itulah, kami harapkan Anda bisa menanti.”  Raja Kosala pun menyetujuinya.

Dalam tujuh hari, Sang permaisuri telah melahirkan seorang putra. Pada hari penamaannya. Mereka memberinya nama Alinacitta (Pangeran Pemenang Hati); karena kata mereka; dia dilahirkan untuk memenangkan hati rakyat. Pada Hari yang sama disaat dia dilahirkan, para penduduk kota mulai bertempur dengan Raja Kosala, Tetapi karena mereka tidak mempunyai seorang pemimpin, sedikit demi sedikit pasukan pun mundur, meskipun sangat hebat. Orang-orang istana pun menceritakan hal ini kepada permaisuri,” karena pasukan kita mulai terdesak, ditakutkan kita akan kalah. Tetapi gajah kerajaan, sahabat sang raja, tidak pernah mendengar kabar bahwa raja telah wafat dan beliau telah dikaruniai seorang putra dan juga Raja Kosala datang menyerang. Haruskah kita bercerita kepadanya?”

“Ya lakukanlah” jawab sang permaisuri. Jadi dia mendadani putranya dan menempatkannya di kain halus. Setelah itu dia bersama orang-orang istana turun dari istana dan masuk ke dalam kandang gajah. Disana dia meletakkan bayinya di kaki gajah dan berkata. “Guru, sahabat anda telah wafat; tetapi kami tidak berani menceritakannya kepadamu selama ini karena takut kalau akan membuatmu sangat sedih; Ini adalah anak sahabatmu; Dan Raja Kosala sedang mengerahkan semua pasukan kota dan sedang bertempur dengan pasukan anak sahabatmu. Pasukan kita telah terdesak. Jadi tolonglah bunuh anak sahabatmu sendiri atau menangkan kerajaan ini untuknya.”

Dengan segera Sang gajah menyambar anak itu dengan belalainya dan mengangkatnya ke atas kepalanya dan kemudian sambil mengerang dan meratap, dia menurunkan anak itu dan meletakannya ke tangan ibunya dan berkata, “Saya akan mengatasi Raja Kosala!”

Kemudian orang-orang istana memasangkan perisai dan senjata di badannya dan membuka gerbang kota dan mengantarkannya ke sana. Sang Gajah muncul dengan raungan keras dan menakuti semua pasukan supaya mereka melarikan diri dan merusak perkemahan mereka. 

Kemudian dia mencengkam rambut Raja Kosala dan membawanya ke hadapan pangeran muda. Kemudian dia menjatuhkannya di depan kaki Pangeran muda. Sebagian orang bangkit untuk membunuhnya tetapi sang gajah mencegahnya dan membiarkan raja tawanan itu pergi sambil berkata, “Ke depannya, berhati-hatilah dan jangan lancang karena melihat pangeran kami yang masih sangat muda ini.”

Setelah itu, Seluruh kekuasaan atas seluruh India jatuh ke tangan Bodhisatta dan tidak ada seorang musuhpun yang berani melawannya. Bodhisatta dinobatkan pada usia tujuh belas tahun sebagai Raja Alinacitta, demikianlah dia memerintah dan pada akhir hidupnya dia lahir di alam surge.

Ketika Sang Guru selesai menyampaikan uraian ini, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, beliau mengulangi beberapa bait berikut :
Pangeran Alinacitta menerima keburukan Raja Kosala dan menolong dengan semua yang dimilikinya;Dengan menangkap raja rakus itu, dia membuat rakyat senang.Demikian juga bhikkhu, siapa saja yang kuat dalam berusaha, berlindung dan gemar melakukan kebajikan, yang mengamalkan jalan menuju nibbana, lambat laun akan menghancurkan segala ikatan.

Dan demikianlah, Sang Guru membawa ajaran-Nya sampai ke puncak Nibbana, melanjutkan dan memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka. Di akhir kebenaran ini, Bhikkhu yang tadinya telah berhenti berusaha itu mencapai tingkat kesucian Arahat. Mahamaya adalah sang permaisuri; Bhikkhu yang berhenti berusaha adalah anak gajah tersebut, Sariputta adalah Ayah dari gajah itu dan diri-Ku sendiri adalah Pangeran Alinacitta




Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Copyright © 2011. Cerita Jataka - Kisah Sang Buddha Gautama pada masa kelahiran lampau - All Rights Reserved
Template Proudly powered by Blogger