Kisah ini diceritakan oleh Sang Buddha ketika Beliau berada di Sawatthi, juga mengenai seorang bhikkhu yang menyerah dalam daya upaya pelatihan dirinya.
Maka, pada saat dibawa oleh para bhikkhu seperti halnya dalam kisah sebelumnya, Sang Guru berkata, “Engkau, bhikkhu yang telah bertekad untuk melaksanakan ajaran yang begitu mulia, yang memungkinkan pencapaian kesucian, hendak menyerah berdaya upaya dalam pelatihan, hal ini akan membuahkan penderitaan panjang seperti seorang pedagang di Seri yang kehilangan sebuah mangkuk emas bernilai seratus ribu keping uang.”
Para bhikkhu memohon Sang Buddha......
VANNNUPATHA-JATAKA
Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru mengenai seorang bhikkhu yang menyerah dalam daya upaya pelatihan dirinya.
Suatu waktu, saat Buddha menetap di Sawatthi, datanglah seorang keturunan keluarga Sawatthi ke Jetawana. Sewaktu mendengarkan khotbah Sang Buddha, ia menyadari bahwa nafsu keinginan merupakan sumber penderitaan, jadi ia memutuskan untuk menjadi seorang samanera. Selama lima tahun lamanya ia mempersiapkan diri untuk menjadi seorang bhikkhu , ia mempelajari dua rangkuman dan melatih diri dengan menggunakan metode Vipassana, ia mendapatkan petunjuk dari Guru mengenai objek meditasi......
APANNAKA-JATAKA
Kisah ini disampaikan oleh Sang Guru saat Beliau berdiam di sebuah arama di Jetawana (Jetavana), di dekat Kota Sawatthi mengenai lima ratus orang teman dari seorang hartawan dan juga merupakan murid dari penganut ajaran sesat3.
Suatu hari, Anāthapiṇḍika, sang hartawan, mengajak teman-temannya, kelima ratus murid dari kelompok lain ke Jetawana, ia membawa untaian kalung bunga, wewangian dan obat-obatan dalam jumlah banyak, di samping itu, terdapat juga minyak, madu, sari gula, kain dan jubah. Setelah memberikan penghormatan kepada Sang Guru, ia mempersembahkan......
MAHA-MANGALA-JATAKA
Kisah ini
diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang kitab suci
Mahā-maṅgala, atau buku tentang petanda. Di kota Rajagaha, dikarenakan sesuatu
hal sekelompok besar orang berkumpul di tempat peristirahatan kerajaan. Dan di
antara mereka ada seorang laki-laki yang bangkit dan berjalan keluar dengan
berkata, “Hari ini adalah hari dengan petanda baik.”
Orang lain
mendengarnya dan berkata, “Kalian dari tadi membicarakan tentang ‘petanda’; apa
maksudnya petanda itu?”
Orang yang
ketiga berkata, “Penglihatan terhadap segala sesuatu yang membawa keberuntungan
adalah petanda......
CAKKA-VAKA-JATAKA
Kisah ini
diceritakan Sang Guru ketika beradadi Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang
serakah. Dikatakan bahwa laki-laki ini tidak merasa puas dengan hasilnya
sebagai peminta-minta, ia selalu berkeliling sambil menanyakan, “Dimanakah ada
makanan buat para bhikkhu? Dimanakah ada undangan makan?” dan ketika mendengar
orang menyebutkan daging, ia akan menjadi sangat gembira.
Kemudian
seorang bhikkhu lainnya yang memiliki niat baik karena merasa iba kepadanya
memberitahukan Sang Guru tentang masalah ini. Beliau menyuruh orang memanggil
bhikkhu tersebut dan bertanya kepadanya, “Apakah benar......
BILARI-KOSIYA-JATAKA
Sang Guru
menceritakan kisah ini ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang
mengabdikan dirinya dalam pembagian dana. Diceritakan bahwa bhikkhu ini
mencurahkan dirinya dalam pembagian dana, menjadi sangat ingin mulai dari waktu setelah ia selesai mendengar
khotbah Dhamma dan mengamalkannya. Ia tidak pernah habis memakan semangkuk nasi
kalau tidak dibagi dengan yang lain, bahkan ia juga tidak akan minum air kalau
ia tidak membaginya dengan yang lain; demikian larutnya ia dalam pembagian.
Kemudian mereka mulai membicarakan sifat baiknya itu di
dhammasabhā. Sang Guru datang......